"Maaf, kami tidak punya lowongan yang cocok untuk anda." Aku merasa putus asa yang sekarang sudah mulai kukenal dengan baik. Diam-diam aku menghitung - ini adalah "tidak" keenam yang kuterima dalam minggu ini. E-mail yang singkat, padat dan jelas tentang mengapa kualifikasiku terlalu high untuk bidang yang kulamar.
Sudah empat bulan sejak kepindahanku ke kota kecil ini dan aku masih merasa seperti seekor ikan yang baru saja melompat keluar dari aquarium yang indah. yah, kira-kira begitulah orang akan memandangku ketika mereka mengetahui aku telah memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku sebelumnya. Sebenarnya aku merindukan apa yang aku kerjakan sebelumnya, aku pun rindu dengan rekan-rekan kerjaku. Bahkan aku juga rindu dengan hawa dinginnya, tempat dimana aku bekerja dan berjumpa orang-orang sederhana dan ramah.
Beberapa portal dan situs pencari kerja telah menyimpan akunku, tidak lupa aku membuat resume dengan maksimal, baik layout maupun isinya tidak luput dari perhatianku. Setiap lowongan yang kurasa keterampilanku dapat berkontribusi, segera kukirimkan e-mail menjelaskan betapa aku tertarik dan siap memberikan yang terbaik untuk itu.
Tidak ada hasil! aku ditolak karena dianggap memiliki kualifikasi yang terlalu tinggi untuk pekerjaan yang ada, namun juga tidak sedikit pekerjaan yang terpaksa aku skip karena tidak menarik bagiku. Sekarang, setelah sebulan memburu pekerjaan dengan penuh keseriusan, aku masih seorang pengangguran. Ini cukup menyedihkan untuk ukuran seseorang yang sudah terbiasa sibuk dengan target.
Kuamati kembali resume yang telah kubuat, menemukan keunggulan yang bisa kutonjolkan lebih jauh untuk menarik perhatian manajer rekruitment. Aku memiliki keterampilan dan pengalaman dalam bidang business development, pengalaman dalam bidang business planning. Segera saja aku update resumeku di portal pencari kerja dan berbagai sosial media dimana para profesional berkumpul, membangun jaringan dengan para HR dan tentu saja sibuk meningkatkan keterampilan dengan mengikuti berbagai kursus dan webinar. Segera saja panggilan interview nangkring dalam jadwal agendaku, dan diikuti dengan kalimat tidak-terima kasih, meski diucapkan dengan sesopan mungkin namun tetap saja menyakitkan.
Aku merasa frustasi dan putus asa. Apa benar tidak ada yang bisa aku lakukan? aku merasa seperti tidak berharga. Kepercayaan diriku yang dulunya kukira teguh menghadapi tantangan, terjun bebas ke dasar jurang. Dan sialnya aku harus menghadapi semua itu seorang diri.
Kemudian suatu hari seorang tetangga melihat tumpukan catatan wawancara kerjaku yang sementara kupelajari, iseng-iseng ia membacanya. Catatan ini adalah semacam resume wawancara yang telah kulakukan, aku menandai setiap bagian yang perlu mendapat perbaikan dan catatan kecil untuk perbaikan. "tulisanmu bagus," komentarnya dengan santai. "Kamu berbakat dalam mengkoreksi dan memberikan pengarahan, kenapa tidak mengajar saja?" lanjutnya masih dengan santainya menghirup kopi yang dihidangkan. Dia pulang tetapi pikiranku masih tetap tinggal ditempatnya, masih merenungkan kata-katanya tadi. Sebenarnya menyenangkan mendengar sedikit pujian tentang aku ahli dalam sesuatu hal.
Malam itu aku membuka e-mail untuk mengecek mungkin ada hal yang terlewatkan atau luput dari perhatianku. Kutemukan kembali e-mail dari seseorang yang dulu pernah menjadi dosen pembimbingku saat kuliah, tawaran untuk membagikan pengetahuan yang telah kurengkuh di program magister ke kampus lamaku. Menjadi dosen? agak jauh dari bayanganku tentang karir yang akan kujalani nantinya. Satu-satunya relasiku dengan dunia ajar-mengajar adalah di pekerjaan terakhirku namun hanya sebagai pemateri pengganti. Ini sungguh dunia yang asing bagiku, merancang dari awal tentang apa yang mau diajarkan hingga hari demi hari mengajar didalam kelas.
Bagaimanapun, aku tetap meminta janji temu dengan rektor. Aku sama sekali tidak punya rekomendasi - tidak ada latar belakang, tidak ada pengalaman, tidak ada kualifikasi. Tetapi dengan keteguhan aku singkirkan semua kecemasan itu. Aku berusaha memusatkan perhatian pada apa yang ada didepan ku sekarang, sesuatu yang nyata dan tidak ada jalan kembali untuk bersembunyi. Pengalamanku terlibat dalam business strategic, passionku terhadap business development, pengalaman dalam memimpin tim, target oriented, kurasa akan cukup membuat aku untuk dipertimbangkan.
Pagi berikutnya, berbekal sisa-sisa kepercayaan diri dan berkas lamaran, aku pergi ke kampus tempat aku pertama kali menjadi orang yang dibolehkan memilih untuk tetap belajar atau pura-pura terlihat belajar. Aku berkata kepada sang rektor tersebut bahwa aku belum pernah sebelumnya memiliki pengalaman mengajar yang formal. Tanpa kata, rektor tersebut mengajak aku ke sebuah kelas dan berkata, perkenalkan dirimu kepada mahasiswa dan berikan pengantar tentang mata kuliah yang akan saya ajarkan. Ketika selesai, aku keluar kelas sambil mempersiapkan batinku untuk kata-kata, "mungkin kamu tidak cocok mengajar."
"Cukup baik." katanya,"tetapi mungkin kamu akan kesulitan karna kamu akan memulai semua dari awal, apakah kamu tidak keberatan dengan itu?" dari awal? aku sedang ditawari pekerjaan! aku menahan diri untuk tidak berteriak gembira dan berhasil menjawab dengan tenang,"ya, tidak masalah".
Tetapi ini bukan akhir dari cerita. Setiap hari aku diserang dengan keraguan. Apakah aku terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi? apakah penjelasanku terlalu sulit dipahami? apakah aku terlalu menjaga wibawa untuk mendapatkan rasa hormat? tetapi aku belajar setiap hari. Aku belajar tentang bagaimana membangun komunikasi yang positif, mengenali setiap orang dan memperlakukan mereka sama baiknya, selalu update dengan isu terkini, rajin menonton berita, dan masih banyak lagi. Setiap hari membawa tantangannya dan tanpa sadar aku sedang jatuh cinta dengan apa yang kukerjakan sekarang. Aku melakukan semuanya dengan sepenuh hati dan aku mendapatkan feedback yang sama baiknya. Untuk pertama kalinya aku menyadari kalau cinta itu harus setara, effort kita harus sama banyaknya antara memberi dan menerima.
Ironisnya, setahun kemudian aku didekati oleh perusahaan lama tempat aku bekerja. Sepertinya situasi mereka kurang beruntung menghadapi kompetitor, dan mereka mengharapkan saya untuk kembali. Coba tebak, itu adalah giliranku untuk mengatakan,"tidak, terima kasih."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar