Tampilkan postingan dengan label hubungan darah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hubungan darah. Tampilkan semua postingan

Jangan Pernah Terlambat

Hari itu ayah meninggal. Bulan Januari, udara sejuk, cuaca gelap tidak menyenangkan. Dalam kamar Rumah Sakit yang sempit, ayah sedang bersandar pada topangan tanganku, ketika tiba-tiba matanya terbeliak dengan pandangan heran yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Siluet Anak perempuan dan ayah

Aku yakin, pastilah malaikat kematian telah memasuki kamar itu. Segera setelah itu badan ayah menjadi lemas, terkulai. Kuletakkan kepalanya perlahan-lahan diatas bantal. Kututup kedua matanya. Dan aku berkata kepada ibuku yang duduk berdoa disamping tempat tidur ayah,

mama, sudah selesai. Ayah sudah meninggal.”


Kata-kata ibuku waktu itu membuat aku terkejut. Aku tak akan pernah mengerti, Mengapa kata-kata itulah yang pertama keluar dari mulut ibuku sesaat setelah ayah meninggal. Ia berkata,


oh, ia sangat bangga atas kamu. Ia begitu mencintaimu.”


Entah bagaimana, kata-kata yang beberapa patah ini menyampaikan sesuatu yang sangat penting bagi diriku. Aku tahu ini dari reaksi yang timbul dalam batinku ketika mendengarnya.


Kata-kata itu bagaikan sinar cerah yang tiba-tiba menyala, seperti suatu pikiran mengejutkan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun ada sebuah kepedihan mendalam yang menikam hatiku. Apakah aku baru saja mengenal ayahku setelah dia meninggal, dan justru bukan sewaktu ia masih hidup?


Beberapa saat kemudian dokter mengadakan pemeriksaan untuk memastikan kematian ayah. Aku bersandar pada tembok jauh di sudut kamar, menangis lirih. Seorang perawat datang menghampiriku. Ia memelukku dengan lembut untuk menghiburku. Aku tidak kuasa berbicara melalui lelehan air mataku. Aku mau mengatakan kepadanya,


aku menangis bukan karena ayahku baru saja meninggal. Aku menangis karena ayah tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa ia bangga atas diriku. Ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tentu saja, aku seharusnya tahu semua itu. Seharusnya aku tahu betapa besar perananku dalam hidupnya dan betapa aku memenuhi hatinya. Tetapi aku tak pernah tahu. Ia tidak pernah mengatakannya.”


Cinta dan (tanpa) Syarat

Beberapa hari lalu, seorang klien kami datang ke perusahaan tempat saya bekerja. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya penuh harapan. Ia ingin mengetahui apakah memungkinkan untuk mendapatkan fasilitas restrukturisasi atas pinjamannya—sebuah pertanyaan yang menandakan adanya beban finansial yang semakin berat.

Saya bertanya apa yang membuatnya membutuhkan fasilitas “khusus” tersebut. Dengan suara pelan namun tegar, ia mulai bercerita: sejak kematian suaminya akhir tahun lalu, kondisi finansialnya mulai memburuk. Ia tidak memiliki anak kandung yang bisa membantu, sementara anak-anak suaminya dari pernikahan sebelumnya memilih tidak hadir dalam hidupnya.

Di usia senja, ia seharusnya menikmati waktu dengan cucu, bercanda di sore hari tanpa khawatir tentang esok. Tetapi kenyataan berbeda—ia sendiri, menanggung beban yang seharusnya tidak perlu ia pikul sendirian.

Saat mendengar ceritanya, hati saya terasa berat. Penelantaran, Tidak ada penerimaan, Pembiaran, Dibuang. Semua rasa itu bercampur, membentuk perasaan yang sulit dijelaskan.

Ilustrasi cinta tanpa syarat dalam hubungan manusia


Apakah cinta tanpa syarat itu benar-benar ada?

Entah sejak kapan kata "ibu tiri" menjadi sebuah label yang membawa jarak emosional. Banyak dari kita tumbuh dengan cerita yang menggambarkan sosok ibu tiri sebagai sosok asing—kadang dingin, kadang antagonis. Seakan hubungan itu tidak pernah bisa benar-benar menjadi "keluarga".

Apakah karena tidak ada ikatan darah? Apakah karena masyarakat telah lama mengajarkan bahwa "ibu tiri" adalah sesuatu yang berbeda dari "ibu"?

Faktanya, tidak semua ibu tiri seperti kisah-kisah dalam dongeng. Ada yang merawat dengan sepenuh hati, ada yang mencintai seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi cinta, sesungguhnya, bukan sesuatu yang otomatis hadir—kadang ia butuh ruang untuk tumbuh, dan jika tidak diberikan kesempatan, maka ia mati sebelum sempat mekar.

Ketika Cinta Berhadapan Dengan Keadaan

Kenyataan diatas merupakan fragmen kecil dari sesuatu yang lebih besar – cinta bersyarat. Apakah yang mengikat sebuah hubungan adalah perasaan, ataukah keadaan? Apakah cinta hanya bertahan selama ada struktur yang menopang?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saat saya merenungi kisah ibu tersebut, saya bertanya pada diri sendiri:
"Berapa banyak orang di sekitar kita yang mungkin diam-diam merasa dilupakan?"

Mungkin ada seseorang yang kita kenal—tetangga, kerabat jauh, atau bahkan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita tetapi tidak lagi kita pedulikan.

Tidak semua hubungan memiliki ikatan darah, tetapi semua hubungan bisa memiliki ikatan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang ingin menghabiskan hidupnya dalam kesendirian. Tidak ada yang ingin merasa bahwa di dunia ini, tidak ada seorang pun yang masih melihat keberadaannya.

Mungkin penerimaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Tetapi mungkin juga, itu bukan sesuatu yang harus menjadi kemewahan.