Tampilkan postingan dengan label masa lalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa lalu. Tampilkan semua postingan

Kita Berteman Saja

Hari ini cukup berawan, matahari masih enggan bersinar sejak pagi hari. Dan aku pun masih enggan meninggalkan tempat tidurku.

“kita berteman saja ya.” Katamu lembut saat pertemuan terakhir kita.

“maksudmu?”

“yah, kalau kita bertemu, aku ingin kita bisa seperti teman biasa. Saling menyapa, ngobrol, bercanda …” kata-katamu berakhir lirih. Wajahmu menunduk.

“tentu. Kita masih akan berteman kok. Jangan kwatir. Kalau berpapasan, aku akan tersenyum menyapa dan melambaikan tangan.” Kataku dengan nada bercanda membesarkan hatimu.

Bertahun-tahun berlalu, aku tidak pernah melihatmu lagi. Aku bersyukur, karena percakapan terakhir kita mengajarkanku apa yang kamu maksud dengan mengatakan ingin tetap berteman.

Berteman dengan masa lalu tidak sesederhana yang pernah aku bayangkan!

Mungkin dengan mengajak berteman, mantan ingin kita berpura-pura tidak pernah memiliki perasaan yang lebih dalam dan harus bisa menyembunyikan rasa sakit yang kita rasakan. Tapi bagaimana caranya?

Seandainya kita mau jujur, sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menampar pipimu lalu tersedu sedan menutupi tetesan airmatanya. Sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menghiasi mimpi dan khayalan indah. Sulit untuk ‘hanya berteman’ dengan seseorang yang pernah memotong ikatan hati.

Mungkin kita dapat dengan mudah menyembunyikan emosi di balik senyum yang dipaksakan. Tapi kenyataan yang sesungguhnya adalah kita tidak tau apa arti sesungguhnya berteman dengan seseorang yang pernah kita cintai.

Seseorang pernah berkata padaku,”kan tinggal berteman, apa sih susahnya?”

Susah, karena arti dan rasa dari kata ‘teman’ itu begitu cair. Coba pikirkan berbagai jenis teman yang kita miliki, seperti teman kerja, teman kuliah, teman SMA, atau teman tapi mesra ^_^

Bentuk pertemanan pun ada berbagai bentuk. Ada teman ‘transaksional’ yang kapan pun masa manfaat berakhir demikian pula hubungan pertemanan, ada pula teman ‘emosional’ yang hubungannya terjalin karena memiliki ikatan emosi atau kesenangan yang sama pada waktu tertentu.

Lalu, dimana letak pertemanan kita berada?

ilustrasi orang yang sedang bimbang dalam memutuskan sesuatu


Belum lagi keberadaan mantan dalam daftar pertemanan kita di social media. Oke mungkin kita sudah jarang bertemu secara fisik. Namun dengan alasan ‘silahturahmi’, hubungan kita masih terjaga sebagai bagian dari dunia virtual kita dengan segala pemberitahuan dan pembaharuannya. Dan apesnya adalah segala pembaharuan itu sama sekali menahan kita untuk beranjak dari masa lalu.

Tidak peduli seberapa lama kita menjalin hubungan, kebenarannya adalah semua itu sudah selesai. Ini menggarisbawahi fakta bahwa kita tidak lagi memiliki hak untuk mengatakan apa yang sedang aku atau kamu lakukan, mengomentari atau melarang.

Perpisahan itu sulit. Namun melanjutkan hidup setelah berpisah dengan orang yang kita cintai justru jauh lebih sulit lagi. Kita tidak sedang memulai dari nol, tetapi kita memulai dari sesuatu yang berantakan, tercabik, terluka, dan terpuruk. Dan ini sulit.

Seminggu Sebelumnya

“slamat pagi” seseorang baru saja memasuki ruanganku.

“slamat pagi juga. Silahkan duduk” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer.

Hari ini ada pekerjaan mendesak yang harus segera beres. Sebenarnya tinggal sedikit polesan agar rapi sebelum diserahkan, jadi saya putuskan untuk tidak teralihkan. Sayangnya suara barusan cukup familiar.

Perlahan kualihkan pandanganku ke sosok yang barusan muncul didepanku.

Ya, di depanku berdiri seseorang yang pernah dengan tangguh menantang kerasnya perguruan tinggi demi sebuah cita-cita, dan aku ada dalam cerita heroik itu.

“hai…” sapamu sambil tersenyum lebar. Kaca daun jendela serasa kehilangan kebeningannya.

“hai juga.” Jawabku singkat. Rasa terkejut belum mampu kuatasi

“bagaimana kabarmu?” kamu bertanya. Senyummu makin lebar nangkring memperlihatkan barisan putih gigi-gigimu.

“kabar baik”

Benar kata pepatah, one good things in the morning can change your whole day. Entah kenapa waktu terasa berjalan mundur, saat ini.


Jangan Pernah Terlambat

Hari itu ayah meninggal. Bulan Januari, udara sejuk, cuaca gelap tidak menyenangkan. Dalam kamar Rumah Sakit yang sempit, ayah sedang bersandar pada topangan tanganku, ketika tiba-tiba matanya terbeliak dengan pandangan heran yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Siluet Anak perempuan dan ayah

Aku yakin, pastilah malaikat kematian telah memasuki kamar itu. Segera setelah itu badan ayah menjadi lemas, terkulai. Kuletakkan kepalanya perlahan-lahan diatas bantal. Kututup kedua matanya. Dan aku berkata kepada ibuku yang duduk berdoa disamping tempat tidur ayah,

mama, sudah selesai. Ayah sudah meninggal.”


Kata-kata ibuku waktu itu membuat aku terkejut. Aku tak akan pernah mengerti, Mengapa kata-kata itulah yang pertama keluar dari mulut ibuku sesaat setelah ayah meninggal. Ia berkata,


oh, ia sangat bangga atas kamu. Ia begitu mencintaimu.”


Entah bagaimana, kata-kata yang beberapa patah ini menyampaikan sesuatu yang sangat penting bagi diriku. Aku tahu ini dari reaksi yang timbul dalam batinku ketika mendengarnya.


Kata-kata itu bagaikan sinar cerah yang tiba-tiba menyala, seperti suatu pikiran mengejutkan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun ada sebuah kepedihan mendalam yang menikam hatiku. Apakah aku baru saja mengenal ayahku setelah dia meninggal, dan justru bukan sewaktu ia masih hidup?


Beberapa saat kemudian dokter mengadakan pemeriksaan untuk memastikan kematian ayah. Aku bersandar pada tembok jauh di sudut kamar, menangis lirih. Seorang perawat datang menghampiriku. Ia memelukku dengan lembut untuk menghiburku. Aku tidak kuasa berbicara melalui lelehan air mataku. Aku mau mengatakan kepadanya,


aku menangis bukan karena ayahku baru saja meninggal. Aku menangis karena ayah tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa ia bangga atas diriku. Ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tentu saja, aku seharusnya tahu semua itu. Seharusnya aku tahu betapa besar perananku dalam hidupnya dan betapa aku memenuhi hatinya. Tetapi aku tak pernah tahu. Ia tidak pernah mengatakannya.”


Let It Go

Ada satu hal tentang masa lalu yang jarang kita bicarakan: ia tidak benar-benar pergi.

Ia tidak selalu muncul sebagai kenangan yang jelas, tetapi kadang hadir dalam bentuk perasaan yang sulit dijelaskan. Bisa dalam sebuah lagu yang tiba-tiba terdengar di tempat umum, dalam aroma yang mengingatkan kita pada rumah lama, atau bahkan dalam keheningan yang terasa terlalu familiar. Masa lalu memiliki caranya sendiri untuk menemukan kita—bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mengingatkan bahwa ia masih ada.

Dan sering kali, kita berpikir bahwa kita telah bergerak jauh darinya. Bahwa waktu sudah cukup untuk membuat segalanya hilang. Tetapi kenyataannya, tidak semua yang berlalu benar-benar pergi.

Ada thread horor tentang bertemu dengan hantu. Namun ada yang lebih menakutkan daripada itu—bertemu dengan kesalahan masa lalu. Kita bisa berlari dari hantu, tetapi kita tidak bisa bersembunyi dari diri sendiri.

                                 ilustrasi orang yang sedang dibayangi masa lalunya

Ketakutan yang Diam-Diam Bertahan

Ketakutan yang diam-diam bertahan sering kali sulit dihadapi daripada rasa takut yang terlihat jelas. Ia tidak berteriak, tidak menuntut perhatian, tetapi bersembunyi dalam keputusan kecil, dalam batas yang kita bangun untuk melindungi diri, dalam cara kita merespon dunia di sekitar kita.

Ia muncul dalam bentuk kehati-hatian yang berlebihan, dalam jarak yang sengaja dibuat, dalam kebutuhan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi hal yang bisa menyakiti seperti sebelumnya.

Saat kehidupan menguji kita dengan badai yang begitu besar, kita belajar bertahan. Tetapi setelah badai berlalu, bekasnya tetap tertinggal.

Kita menyadari bahwa meskipun kita telah melewati masa sulit, ada batasan yang mulai kita bangun sendiri. Kita berhati-hati dalam memilih lingkungan, saya menjaga jarak dengan situasi tertentu, kita menghindari hal-hal yang berpotensi menempatkan kita kembali dalam kondisi yang dulu begitu menyakitkan.

Ini bukan karena kita belum sembuh—kita sudah jauh lebih baik. Tetapi bekas luka memiliki suara, dan kadang-kadang, suara itu berbicara lebih keras daripada yang kita inginkan.

Terkadang, saat kehidupan menempatkan kita dalam situasi yang mirip dengan masa lalu itu, muncul rasa takut bahwa semuanya bisa berulang. Pikiran mulai bermain dengan skenario yang paling buruk, dan naluri pertama yang muncul adalah melindungi diri dengan cara apa pun.

Kita membangun tembok—bukan untuk mengisolasi diri, tetapi untuk menjaga agar tidak lagi jatuh ke dalam kesakitan yang sama. Tetapi apakah tembok itu perlindungan, atau justru batasan yang menghalangi kita untuk benar-benar melangkah ke depan?

Berdamai dengan Diri Sendiri

Di suatu tempat, kamu mungkin saja pernah mendengar kalimat seperti ini,”waktu yang lama dan jarak yang jauh dapat menyembuhkan hati yang terluka”. Pepatah ini memiliki artian sebagai cara alami bagi seseorang untuk melepaskan diri dari rasa sakit, memberikan ruang bagi hati dan pikiran beradaptasi, menerima, dan menemukan kedamaian hati.

Saya pernah berpikir bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar sembuh adalah melupakan. Tetapi ternyata, melupakan bukanlah solusinya.

Lalu, apakah pepatah tersebut benar sepenuhnya? Itu tergantung. Waktu dan jarak memang bisa membantu mengurangi intensitas luka, tetapi tidak selalu menjamin penyembuhan. Ada luka yang, meskipun bertahun-tahun berlalu dan dunia berubah, tetap terasa karena tidak pernah benar-benar diproses atau diselesaikan.

Luka masa lalu tidak hilang begitu saja. Ia ada di sana—tersimpan dalam ingatan, dalam tindakan yang kita ambil untuk melindungi diri, dalam keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari. Tetapi yang lebih penting bukanlah melupakan, melainkan berdamai dengan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri berarti menerima bahwa ada bagian dalam hidup yang tidak bisa diubah, bahwa ada kejadian yang memang menyakitkan, bahwa ada pengalaman yang mungkin tidak akan pernah bisa kita hapus sepenuhnya. Tetapi kita memilih untuk tidak membiarkannya mendikte siapa kita hari ini.

Kita tidak lagi membiarkan ketakutan mengendalikan hidup kita, tetapi kita juga tidak mengabaikan keberadaannya. kita belajar untuk berkata kepada diri sendiri: Ya, saya pernah melalui hal yang sulit. Ya, aku pernah merasa ingin menyerah. Tapi aku ada di sini, sekarang, dan aku telah tumbuh.

Let It Go

Penyembuhan bukan hanya soal waktu dan jarak–tetapi juga tentang bagaimana seseorang memilih untuk berdamai dengan dirinya sendiri, menerima apa yang telah terjadi, dan membangun makna baru dari pengalaman itu.

Setiap orang yang pernah menghadapi masa sulit pasti membawa sesuatu darinya—entah itu trauma, kebijaksanaan, ketahanan, atau ketakutan yang diam-diam masih ada.

Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting bukanlah bagaimana cara melupakan?, tetapi bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri tanpa membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan?