Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Kita Berteman Saja

Hari ini cukup berawan, matahari masih enggan bersinar sejak pagi hari. Dan aku pun masih enggan meninggalkan tempat tidurku.

“kita berteman saja ya.” Katamu lembut saat pertemuan terakhir kita.

“maksudmu?”

“yah, kalau kita bertemu, aku ingin kita bisa seperti teman biasa. Saling menyapa, ngobrol, bercanda …” kata-katamu berakhir lirih. Wajahmu menunduk.

“tentu. Kita masih akan berteman kok. Jangan kwatir. Kalau berpapasan, aku akan tersenyum menyapa dan melambaikan tangan.” Kataku dengan nada bercanda membesarkan hatimu.

Bertahun-tahun berlalu, aku tidak pernah melihatmu lagi. Aku bersyukur, karena percakapan terakhir kita mengajarkanku apa yang kamu maksud dengan mengatakan ingin tetap berteman.

Berteman dengan masa lalu tidak sesederhana yang pernah aku bayangkan!

Mungkin dengan mengajak berteman, mantan ingin kita berpura-pura tidak pernah memiliki perasaan yang lebih dalam dan harus bisa menyembunyikan rasa sakit yang kita rasakan. Tapi bagaimana caranya?

Seandainya kita mau jujur, sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menampar pipimu lalu tersedu sedan menutupi tetesan airmatanya. Sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menghiasi mimpi dan khayalan indah. Sulit untuk ‘hanya berteman’ dengan seseorang yang pernah memotong ikatan hati.

Mungkin kita dapat dengan mudah menyembunyikan emosi di balik senyum yang dipaksakan. Tapi kenyataan yang sesungguhnya adalah kita tidak tau apa arti sesungguhnya berteman dengan seseorang yang pernah kita cintai.

Seseorang pernah berkata padaku,”kan tinggal berteman, apa sih susahnya?”

Susah, karena arti dan rasa dari kata ‘teman’ itu begitu cair. Coba pikirkan berbagai jenis teman yang kita miliki, seperti teman kerja, teman kuliah, teman SMA, atau teman tapi mesra ^_^

Bentuk pertemanan pun ada berbagai bentuk. Ada teman ‘transaksional’ yang kapan pun masa manfaat berakhir demikian pula hubungan pertemanan, ada pula teman ‘emosional’ yang hubungannya terjalin karena memiliki ikatan emosi atau kesenangan yang sama pada waktu tertentu.

Lalu, dimana letak pertemanan kita berada?

ilustrasi orang yang sedang bimbang dalam memutuskan sesuatu


Belum lagi keberadaan mantan dalam daftar pertemanan kita di social media. Oke mungkin kita sudah jarang bertemu secara fisik. Namun dengan alasan ‘silahturahmi’, hubungan kita masih terjaga sebagai bagian dari dunia virtual kita dengan segala pemberitahuan dan pembaharuannya. Dan apesnya adalah segala pembaharuan itu sama sekali menahan kita untuk beranjak dari masa lalu.

Tidak peduli seberapa lama kita menjalin hubungan, kebenarannya adalah semua itu sudah selesai. Ini menggarisbawahi fakta bahwa kita tidak lagi memiliki hak untuk mengatakan apa yang sedang aku atau kamu lakukan, mengomentari atau melarang.

Perpisahan itu sulit. Namun melanjutkan hidup setelah berpisah dengan orang yang kita cintai justru jauh lebih sulit lagi. Kita tidak sedang memulai dari nol, tetapi kita memulai dari sesuatu yang berantakan, tercabik, terluka, dan terpuruk. Dan ini sulit.

Seminggu Sebelumnya

“slamat pagi” seseorang baru saja memasuki ruanganku.

“slamat pagi juga. Silahkan duduk” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer.

Hari ini ada pekerjaan mendesak yang harus segera beres. Sebenarnya tinggal sedikit polesan agar rapi sebelum diserahkan, jadi saya putuskan untuk tidak teralihkan. Sayangnya suara barusan cukup familiar.

Perlahan kualihkan pandanganku ke sosok yang barusan muncul didepanku.

Ya, di depanku berdiri seseorang yang pernah dengan tangguh menantang kerasnya perguruan tinggi demi sebuah cita-cita, dan aku ada dalam cerita heroik itu.

“hai…” sapamu sambil tersenyum lebar. Kaca daun jendela serasa kehilangan kebeningannya.

“hai juga.” Jawabku singkat. Rasa terkejut belum mampu kuatasi

“bagaimana kabarmu?” kamu bertanya. Senyummu makin lebar nangkring memperlihatkan barisan putih gigi-gigimu.

“kabar baik”

Benar kata pepatah, one good things in the morning can change your whole day. Entah kenapa waktu terasa berjalan mundur, saat ini.


Cinta Tanpa Pilihan, Bakti Tanpa Akhir


Namanya tidak sempat dikenal banyak orang. Usianya masih belasan, tapi sudah menjadi tulang punggung keluarga. Sejak ayahnya pergi, dia menggantikan peran yang seharusnya tidak perlu ia pikul—bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah, sementara ibunya mencari pekerjaan seadanya agar anak-anaknya tidak kelaparan.

Ia bangun pagi-pagi, bukan untuk belajar di sekolah, tapi untuk mengejar waktu agar tidak telat ke tempat kerja. Tenaganya dibayar murah, tapi cukup untuk membeli beras dan minyak. Itu sudah cukup baginya.

Hingga satu hari, sebuah kecelakaan kerja merenggut nyawanya.

Kami datang ke rumah duka membawa santunan. Tapi yang menyambut kami bukan isak tangis karena kehilangan anak, melainkan tangisan karena kehilangan penopang keluarga. Ibu itu memeluk bungkusan santunan seperti seseorang yang baru saja kehilangan pegangan terakhir dalam hidupnya.

Di rumah itu, suasana bukan sekadar duka. Ada kekosongan. Bukan hanya anak yang pergi, tapi harapan yang ikut dibawa bersama jenazahnya.

Banyak orang bertanya, bagaimana bisa seorang anak yang masih remaja memikul tanggung jawab sebesar itu? Bukankah tugas seorang anak adalah belajar, bermain, dan bermimpi?

Jawabannya tidak sesederhana benar atau salah. Ini adalah kenyataan yang terbentuk dari banyak sisi yang saling bertabrakan.

Mungkin sang ibu tidak berniat menjadikan anaknya sebagai tulang punggung. Tapi ketika ayah pergi dan kebutuhan terus berdatangan, ia tak punya pilihan lain. Ia bekerja serabutan, kadang cukup, seringkali kurang. Dalam keadaan seperti itu, sang anak ikut turun tangan, bukan karena disuruh, tapi karena merasa harus.

Orang tua yang terhimpit kemiskinan sering kali tidak lagi memikirkan masa depan, melainkan hanya hari ini. Dalam situasi ini, anak dianggap sebagai bagian dari perjuangan, bukan prioritas perlindungan.

Tetangga melihat anak itu bekerja dan berkata, “Anak yang bertanggung jawab.” Sekolah tidak bertanya kenapa dia tak hadir. Tidak ada pihak yang menanyakan: “Apakah dia baik-baik saja?”

Di lingkungan yang terbiasa melihat anak-anak bekerja, ekspektasi menjadi bias. Anak bekerja bukan lagi sesuatu yang keliru, tapi dianggap wajar. Padahal tidak semua pekerjaan tumbuh dari kesadaran, sebagian tumbuh dari keterpaksaan.

Tidak semua keluarga punya akses ke bantuan sosial atau pendidikan tentang perencanaan hidup. Banyak yang bahkan tak tahu hak mereka. Ketika tak ada pegangan, satu-satunya harapan justru dipikul oleh yang paling muda dan paling rapuh.

Di banyak keluarga, terutama di lingkungan saya, ada narasi yang terus diulang: “Orangtua sudah berkorban membesarkanmu, sekarang giliranmu mengorbankan hidupmu untuk kami.” Kata-kata itu terdengar penuh cinta, tapi dibaliknya ada tuntutan yang kadang tak adil. Anak-anak yang baru tumbuh dewasa didorong untuk segera merantau, bekerja, dan mengirim uang pulang. Bukan karena mereka siap, tapi karena dianggap harus.

Pengorbanan orang tua yang seharusnya menjadi inspirasi berubah menjadi senjata. Anak-anak tidak lagi punya ruang untuk gagal, mencoba, atau sekadar mencari tahu siapa dirinya. Dalam sistem yang menjadikan balas budi sebagai hukum hidup, mereka kehilangan hak untuk merancang jalan sendiri terlebih dahulu.

Lebih miris lagi, ekspektasi ini tidak selalu lahir dari kemiskinan, tapi dari pola pikir. Bahwa keberhasilan anak diukur dari seberapa besar ia bisa menopang keluarganya secara finansial—bukan dari seberapa utuh ia membangun dirinya.

Pengorbanan yang semestinya tumbuh dari cinta, malah berubah menjadi kewajiban yang disetir rasa bersalah.

                “Kalau kamu tidak kirim uang, berarti kamu tidak ingat perjuangan kami.”

Tidak semua orang tua seperti ini. Tapi cukup banyak hingga lahirlah generasi yang tumbuh dengan kelelahan mental, penuh beban, dan merasa gagal hanya karena memilih membangun hidupnya sendiri terlebih dahulu.

Kisah anak itu mungkin sudah berlalu. Tapi pesan yang tertinggal masih membekas.
Ia pergi bukan sebagai korban takdir semata, tapi sebagai cermin dari kondisi yang bisa dicegah jika kita belajar dan mau berubah.

Untuk kamu yang muda dan tengah merancang hidup: Mulailah bertanya, bukan hanya soal cinta dan karier, tapi juga tentang kesiapanmu menjadi orang tua kelak.

Apakah kamu sudah memahami bahwa membesarkan anak bukan sekadar memberi makan dan pakaian, tapi membangun ruang yang aman bagi mereka untuk tumbuh?

Berumah tangga bukan hanya soal berdua, tapi tentang bagaimana generasi berikutnya akan menjalani hidup. Jika dari awal kita tidak mempersiapkan fondasi ekonomi, pendidikan, dan pola pikir yang sehat, maka besar kemungkinan anak-anak kita akan mengulang beban yang dulu pernah kita pikul—bahkan lebih berat.

Jika kamu ingin anakmu tumbuh sebagai manusia yang utuh, kamu harus menjadi orang tua yang siap memberi tempat tumbuh, bukan sekadar harapan untuk menopang.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat—bahwa cinta sejati bukan menuntut pengorbanan, tapi menciptakan ruang bagi orang yang kita cintai untuk hidup dengan utuh.

Kamu dan Gombalanmu


Ting...

Nada khas dari ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Etmus.

“Malam cantik”

Aku mengangkat alis. Ringkas, seperti sapaan biasa. Kupikir ini hanya pesan basa-basi, dan aku sedang terlalu lelah untuk membalas dengan antusias. Maka kutulis datar:

“Malam juga”

Hari ini terlalu panjang. Ponsel bukan hiburan, hanya benda kecil yang menunda kesepian. Aku menaruhnya di atas meja lalu merebahkan diri di sofa, mencari jeda dari penat pulang kerja.

Ting...

Ponsel kembali bergetar. Aku meraihnya, setengah penasaran.

“Lagi apa ini?”

Hmm... tidak biasanya dia seaktif ini malam-malam begini.

“Lagi balas chat kamu,” balasku.

Lalu... pesan baru masuk.

“Hehehe... iya juga yah…”
“Btw mama kamu manusia kan?”

Aku mengernyit. Pertanyaan aneh.

“Iya lah, mang... kenapa?”

Dan saat balasan berikutnya muncul, aku tertawa.

“Tapi kok aneh yah... anaknya bidadari.”

Tawa kecil lolos dari bibirku. Jemariku mulai bergerak lebih lincah di layar.

“Aaaahhh bisa aja kamu…”

Percakapan mulai terasa hangat, seperti teh manis di malam yang sunyi.

“Jangan keluar malam malam yah, cantik,” tulis Etmus lagi.

Aku membalas cepat:

“Emang kenapa?”

“Gak ada pelangi yang keluar malam hari.”

Mataku membelalak sambil menahan senyum. Rasanya seperti ditimpa pelangi di dalam hati. Aku mengetik sambil cekikikan sendiri:

“Bisa gak sih kamu diam?”

“Diam gimana?” balasnya.

“Diam di hatiku… jangan ke mana-mana yah.”

Ting...

“Hahaha…”
“Ada yang aneh minggu kemarin,” tulisnya.

“Aneh apa?” balasku.

“Aku nanem sayur.”

“Terus?” kubalas penasaran.

“Yang subur malah perasaan aku ke kamu.”

Aku terdiam sebentar. Kalimat itu sederhana, tapi cara Etmus mengatakannya terasa seperti pelukan jarak jauh. Senyumku mekar lagi.

“Hidup mang pahit. Makanya Tuhan ciptakan kamu... biar ada manis-manisnya.”

Lalu ia menulis:

“Eh kamu bisa geser gak sih?”

Aku menjawab sambil menggigit bibir menahan senyum:

“Geser ke mana?”

“Ke sebelahku… soalnya aku capek ngetik. Mau bilang langsung di kuping kamu.”

Kubaca kembali pesan Etmus dari atas sambil senyum sendiri.
Benar kata orang, one small thing can change your whole day.
Bukan saja penat karena pekerjaan hari ini, kangen hari ini pun… terobati.



Typing From Heart

 


Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa.

Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat

dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh

pengertian dan lemah lembut.


Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin

menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman.


Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah

mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya

tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?"


Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.


Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari

pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan

dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki

pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan

sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam

5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan

dan melepas kerinduan.


Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam

perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing

di jalan raya, mendadak menikung tajam.....


Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah

sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya.

Mereka lantas memanggil dokter.


"Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar.


Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan

memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan

yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.


Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari

setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat

bersuara?


Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka,

untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."


"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut

lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak

bersuara.


Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan

waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak

lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai

berpikir untuk pindah rumah.


Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah

membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan

jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar

lautan.


Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa

yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk

berkomunikasi dengan orang lain.


Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja

sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak

mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar

tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya

yang berat, pergi membuka pintu.


Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan

pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke

hadapanku.


Dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, menikahlah denganku!"


Cinta dan (tanpa) Syarat

Beberapa hari lalu, seorang klien kami datang ke perusahaan tempat saya bekerja. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya penuh harapan. Ia ingin mengetahui apakah memungkinkan untuk mendapatkan fasilitas restrukturisasi atas pinjamannya—sebuah pertanyaan yang menandakan adanya beban finansial yang semakin berat.

Saya bertanya apa yang membuatnya membutuhkan fasilitas “khusus” tersebut. Dengan suara pelan namun tegar, ia mulai bercerita: sejak kematian suaminya akhir tahun lalu, kondisi finansialnya mulai memburuk. Ia tidak memiliki anak kandung yang bisa membantu, sementara anak-anak suaminya dari pernikahan sebelumnya memilih tidak hadir dalam hidupnya.

Di usia senja, ia seharusnya menikmati waktu dengan cucu, bercanda di sore hari tanpa khawatir tentang esok. Tetapi kenyataan berbeda—ia sendiri, menanggung beban yang seharusnya tidak perlu ia pikul sendirian.

Saat mendengar ceritanya, hati saya terasa berat. Penelantaran, Tidak ada penerimaan, Pembiaran, Dibuang. Semua rasa itu bercampur, membentuk perasaan yang sulit dijelaskan.

Ilustrasi cinta tanpa syarat dalam hubungan manusia


Apakah cinta tanpa syarat itu benar-benar ada?

Entah sejak kapan kata "ibu tiri" menjadi sebuah label yang membawa jarak emosional. Banyak dari kita tumbuh dengan cerita yang menggambarkan sosok ibu tiri sebagai sosok asing—kadang dingin, kadang antagonis. Seakan hubungan itu tidak pernah bisa benar-benar menjadi "keluarga".

Apakah karena tidak ada ikatan darah? Apakah karena masyarakat telah lama mengajarkan bahwa "ibu tiri" adalah sesuatu yang berbeda dari "ibu"?

Faktanya, tidak semua ibu tiri seperti kisah-kisah dalam dongeng. Ada yang merawat dengan sepenuh hati, ada yang mencintai seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi cinta, sesungguhnya, bukan sesuatu yang otomatis hadir—kadang ia butuh ruang untuk tumbuh, dan jika tidak diberikan kesempatan, maka ia mati sebelum sempat mekar.

Ketika Cinta Berhadapan Dengan Keadaan

Kenyataan diatas merupakan fragmen kecil dari sesuatu yang lebih besar – cinta bersyarat. Apakah yang mengikat sebuah hubungan adalah perasaan, ataukah keadaan? Apakah cinta hanya bertahan selama ada struktur yang menopang?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saat saya merenungi kisah ibu tersebut, saya bertanya pada diri sendiri:
"Berapa banyak orang di sekitar kita yang mungkin diam-diam merasa dilupakan?"

Mungkin ada seseorang yang kita kenal—tetangga, kerabat jauh, atau bahkan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita tetapi tidak lagi kita pedulikan.

Tidak semua hubungan memiliki ikatan darah, tetapi semua hubungan bisa memiliki ikatan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang ingin menghabiskan hidupnya dalam kesendirian. Tidak ada yang ingin merasa bahwa di dunia ini, tidak ada seorang pun yang masih melihat keberadaannya.

Mungkin penerimaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Tetapi mungkin juga, itu bukan sesuatu yang harus menjadi kemewahan.


Berjumpa Denganmu

Berjumpa denganmu hari ini. Banyak cerita yang kuingin kamu dengar. Tentang hari yang berganti minggu, tentang bulan yang berganti tahun. Tentang perasaan cinta yang tak bertepi kepadamu.

Dari sini jelas terlihat jalan lingkar mengitari kolam yang makin seksi dengan kesemrawutan. Meski tidak sesemrawut ingatanku yang tumpang tindih antara harapanku untuk memilikimu dan kenyataan bahwa hal tersebut sama sulitnya pelangi mendahului hujan. Para pejalan kaki yang lalu lalang dengan segala aktivitasnya dipenghujung hari, pak Polisi dengan sumpritannya, dan penjual jajanan yang sibuk dengan jajanan olahannya dan tidak peduli dengan suara klakson kendaraan yang menjerit minta didahulukan.


Siluet Sepasang kekasih di bawah pohon menikmati sunset

Udara dingin perlahan mencoba menyelinap diantara lamunanku, sisa matahari sore perlahan meredup berganti langit malam yang masih malu-malu  menampakkan dirinya. Waktu terasa lambat berputar dalam masa penantian. Sangat lambat.


“sudah dimana?”


“di jalan kak. Kakak sudah sampai ya?”


“iya. Okay kalau gitu hati-hati ya.”


“Okay kak.”


Suaramu masih seperti terakhir kali saya dengar, lembut dan penuh keceriaan. Entah kenapa suara yang selalu rindu untuk kudengar ini juga membawa sebaris kenyataan perih yang tidak terucapkan. Sesekali kulihat telpon genggamku hanya untuk memastikan tidak ada satu pesanmu yang tidak dibalas. Para pengunjung datang dan pergi silih berganti, resah dan gelisah pun bergantian menatapku. Kamu muncul. Wajahmu sedikit pucat dengan senyum yang kurindu.


“sudah lama kak?”


“Tidak juga.”


Aku tersenyum menjawabnya. Mungkin sudah lebih satu setengah jam sejak saya duduk disini. Satu setengah jam berarti 90 menit, yang berarti 5400 detik. Satu setengah jam juga sama dengan waktu yang ditempuh dari Makale ke Rantepao dan kembali lagi. Satu setengah jam juga sama dengan waktu yang diperlukan seseorang untuk menghabiskan dua bab Novel ato enam cerpen. Satu setengah jam tersebut belum dikalikan dengan perasaan waktu yang terasa begitu lambat. Namun semua itu mendadak hilang ketika melihat senyum dan sepasang pipi tirusmu.


Kamu duduk didepanku. Diseberang meja ini ada seseorang yang sejak lama ingin kudapatkan. Tidak hanya raga, tapi jiwa juga impian dan masa depan yang selalu kuanggap indah. Aku pun berangan jika kelak kita telah tua. Kita menjadi sepasang kekasih berambut perak yang menggoda semesta di sebuah senja dengan hal-hal yang sederhana; saling beradu pandang, memainkan jemari, dan membicarakan tentang tetangga yang tidak ada habisnya mengingatkan jika tak lagi muda. Bukankah semesta akan iri memandang kita jika seandainya angan itu jadi nyata?


“kamu mau pesan apa?”


“adanya apa?”


Sebenarnya saya kurang setuju dengan pakaianmu. Kamu hanya menggunakan sweater tipis sebagai penghangat, sedangkan kita sama-sama tau udara disini cukup dingin terutama di malam hari. Kusarankan kau memesan sesuatu yang hangat. Makanan atau minuman yang bisa menghangatkanmu dari udara dan cuaca. Kau mengangguk dan memesan roti bakar. Kau memintanya harus hangat dengan nada yang ramah. Seperti anak kecil yang memesan permen kapasnya harus manis dan besar. Kau begitu manis.


“bagaimana kabar jerapahmu?”


Kau menggelengkan kepala. Jerapah yang kumaksud ialah mantan pacarmu yang pertama. Kau menganggapnya ia seekor jerapah. Aku pun begitu. Mungkin sifat cueknya dan dingin wajahnya menggambarkan seekor binatang tertinggi di dunia tersebut. Di suatu pagi di bulan Oktober, kalian mengikatkan diri pada hubungan. Ketika itu aku baru saja terbangun, dan melihat sebuah kabar di sebuah sosial media dengan tampilan birunya.


“padahal dia sabar lho.”


“iya kak, dia sabar banget. Akunya aja yang sering buat masalah. Tapi dia bisa imbangi semuanya.” Kau terkikik menceritakannya.


Ada semacam sihir dalam tawamu yang membuatku jatuh hati padamu dari dulu hingga detik ini. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, dan tanpa sadar sudah tiga detik aku menatap matamu, menikmati senyum ceriamu.


“bagaimana denganmu kak?”


Aku tersadar dan mengatakan semua berjalan baik-baik saja dan masih tetap sama. Bumi masih berputar, matahari masih terbit dari timur dan terbenam di barat, matahari masih ada di atas dan tanah masih kuinjak. Segalanya baik-baik saja, dan masih tampak sama seperti sebelumnya. Begitu pun hati ini, masih sama saja seperti dulu, mengharapkanmu tanpa tepi.


“kau masih mengharapkannya kembali?” ucapku.


Sesaat malah kau yang tampak termenung. Tatap matamu kosong di waktu yang terasa seabad. Sesaat itu bisa aku bayangkan dan menebak yang macam-macam tentang apa yang kau renungkan. Apakah tentang kenangan indah kalian, ciuman manis pertama dan hangat, ataupun malah sebaliknya. Semuanya terasa berlompatan di kepalaku. Jemariku tanpa sadar mengetuk meja seolah menunggu jawaban.


“sudah tidak kak.”


Seolah ada angin mendesir seperti di tepi pantai. Terlihat bulan dan bintang serta pantulan cahayanya. Beberapa burung camar terbang terbang diantara derunya ombak, dan diujung sama berdiri teguh mercu suar yang menantikan pelautnya kembali pulang. Kau terdiam lagi, aku masih terjebak dengan lamunanku.


“kenapa?” ucapku. Ternyata aku lebih dahulu kembali ke bumi. Aku menegur diammu.


“mungkin bukan jodohnya.”


Aku mengangguk. Ada perasaan senang yang harus ditutupi rapat hingga tampak biasa saja. Mungkin lebih baik jika aku membuat suasana lebih sendu lagi. Tapi mungkin itu akan terlihat agak jahat. Roti bakarmu sampai. Terlihat panas begitu sampai di meja. Untuk ukuran sepuluh menit sampai, pelayanannya sungguh cepat. Roti itu begitu mengoda. Kau memandangnya lebih dahulu, seolah berpikir harus dikoyak dari mana dulu roti bakar ini. Kau cicipi sekali lalu mengatakan suatu hal yang membuatku terkejut.


“Kau tahu kak? Wanita suka laki-laki yang nekat.”


“Maksudnya?”


“Laki-laki yang datang ke rumah lalu membicarakan hal yang serius tentang masa depan.”


“Lalu, kenapa kau mengatakan itu padaku?”


“Aku ingin kamu seperti itu.”


Aku tidak ingin meneruskan topik itu, dan kau pun terus menyantap roti bakar diatas mejamu. Untuk ukuran rata-rata pria sepertiku, bukankah akan melakukan hal yang sama. Terjebak diantara mozaik atau teka-teki yang diciptakan perempuan. Bahkan oleh perempuan yang dicintai. Alhasil aku lebih memilih menatapmu dalam daripada berpikir keras tentang arti dari percakapan kita barusan. Kau tersadar jika aku menatapmu.


“kenapa menatapku seperti itu?”


“aku hanya berpikir.”


“percakapan yang barusan?”


“bukan.”


“lalu apa?”


“kenapa bisa kamu sekurus ini.”


“tolong kak, kamu jangan kurang ajar ya.”


Sekejap aku tertawa dan kau menggelembungkan pipimu seperti ikan buntal.





suatu senja ditepi kolam