Tampilkan postingan dengan label themindoasis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label themindoasis. Tampilkan semua postingan

Untuk Wanita, Tentang Lelaki dan Pekerjaannya


Jika seorang lelaki tidak bekerja, marahlah!

Jika ia tidak mendapat pekerjaan, bantulah!

Jika ia tidak mau bekerja, tinggalkanlah!

 

Jika seorang lelaki memiliki pekerjaan, dukunglah!

Jika ia lelah karena pekerjaannya, manjakanlah!

Jika ia berhasil dalam pekerjaannya, nikmatilah!

 

Jika seorang lelaki sedang bekerja, percayalah!

Jika ia sedang bersusah-payah dalam pekerjaannya, doakanlah!

Jika ia gagal, semangatilah!

 

Jika seorang lelaki itu pekerja keras,

Dan ia adalah lelakimu,

Bersyukurlah!

Ketika Itu giliranku

ilustrasi orang yang berjalan dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang

 "Maaf, kami tidak punya lowongan yang cocok untuk anda." Aku merasa putus asa yang sekarang sudah mulai kukenal dengan baik. Diam-diam aku menghitung - ini adalah "tidak" keenam yang kuterima dalam minggu ini. E-mail yang singkat, padat dan jelas tentang mengapa kualifikasiku terlalu high untuk bidang yang kulamar.

Sudah empat bulan sejak kepindahanku ke kota kecil ini dan aku masih merasa seperti seekor ikan yang baru saja melompat keluar dari aquarium yang indah. yah, kira-kira begitulah orang akan memandangku ketika mereka mengetahui aku telah memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku sebelumnya. Sebenarnya aku merindukan apa yang aku kerjakan sebelumnya, aku pun rindu dengan rekan-rekan kerjaku. Bahkan aku juga rindu dengan hawa dinginnya, tempat dimana aku bekerja dan berjumpa orang-orang sederhana dan ramah.

Beberapa portal dan situs pencari kerja telah menyimpan akunku, tidak lupa aku membuat resume dengan maksimal, baik layout maupun isinya tidak luput dari perhatianku. Setiap lowongan yang kurasa keterampilanku dapat berkontribusi, segera kukirimkan e-mail menjelaskan betapa aku tertarik dan siap memberikan yang terbaik untuk itu.

Tidak ada hasil! aku ditolak karena dianggap memiliki kualifikasi yang terlalu tinggi untuk pekerjaan yang ada, namun juga tidak sedikit pekerjaan yang terpaksa aku skip karena tidak menarik bagiku. Sekarang, setelah sebulan memburu pekerjaan dengan penuh keseriusan, aku masih seorang pengangguran. Ini cukup menyedihkan untuk ukuran seseorang yang sudah terbiasa sibuk dengan target.

Kuamati kembali resume yang telah kubuat, menemukan keunggulan yang bisa kutonjolkan lebih jauh untuk menarik perhatian manajer rekruitment. Aku memiliki keterampilan dan pengalaman dalam bidang business development, pengalaman dalam bidang business planning. Segera saja aku update resumeku di portal pencari kerja dan berbagai sosial media dimana para profesional berkumpul, membangun jaringan dengan para HR dan tentu saja sibuk meningkatkan keterampilan dengan mengikuti berbagai kursus dan webinar. Segera saja panggilan interview nangkring dalam jadwal agendaku, dan diikuti dengan kalimat tidak-terima kasih, meski diucapkan dengan sesopan mungkin namun tetap saja menyakitkan.

Aku merasa frustasi dan putus asa. Apa benar tidak ada yang bisa aku lakukan? aku merasa seperti tidak berharga. Kepercayaan diriku yang dulunya kukira teguh menghadapi tantangan, terjun bebas ke dasar jurang. Dan sialnya aku harus menghadapi semua itu seorang diri.

Kemudian suatu hari seorang tetangga melihat tumpukan catatan wawancara kerjaku yang sementara kupelajari, iseng-iseng ia membacanya. Catatan ini adalah semacam resume wawancara yang telah kulakukan, aku menandai setiap bagian yang perlu mendapat perbaikan dan catatan kecil untuk perbaikan. "tulisanmu bagus," komentarnya dengan santai. "Kamu berbakat dalam mengkoreksi dan memberikan pengarahan, kenapa tidak mengajar saja?" lanjutnya masih dengan santainya menghirup kopi yang dihidangkan. Dia pulang tetapi pikiranku masih tetap tinggal ditempatnya, masih merenungkan kata-katanya tadi. Sebenarnya menyenangkan mendengar sedikit pujian tentang aku ahli dalam sesuatu hal.

Malam itu aku membuka e-mail untuk mengecek mungkin ada hal yang terlewatkan atau luput dari perhatianku. Kutemukan kembali e-mail dari seseorang yang dulu pernah menjadi dosen pembimbingku saat kuliah, tawaran untuk membagikan pengetahuan yang telah kurengkuh di program magister ke kampus lamaku. Menjadi dosen? agak jauh dari bayanganku tentang karir yang akan kujalani nantinya. Satu-satunya relasiku dengan dunia ajar-mengajar adalah di pekerjaan terakhirku namun hanya sebagai pemateri pengganti. Ini sungguh dunia yang asing bagiku, merancang dari awal tentang apa yang mau diajarkan hingga hari demi hari mengajar didalam kelas.

Bagaimanapun, aku tetap meminta janji temu dengan rektor. Aku sama sekali tidak punya rekomendasi - tidak ada latar belakang, tidak ada pengalaman, tidak ada kualifikasi. Tetapi dengan keteguhan aku singkirkan semua kecemasan itu. Aku berusaha memusatkan perhatian pada apa yang ada didepan ku sekarang, sesuatu yang nyata dan tidak ada jalan kembali untuk bersembunyi. Pengalamanku terlibat dalam business strategic, passionku terhadap business development, pengalaman dalam memimpin tim, target oriented, kurasa akan cukup membuat aku untuk dipertimbangkan.


Pagi berikutnya, berbekal sisa-sisa kepercayaan diri dan berkas lamaran, aku pergi ke kampus tempat aku pertama kali menjadi orang yang dibolehkan memilih untuk tetap belajar atau pura-pura terlihat belajar. Aku berkata kepada sang rektor tersebut bahwa aku belum pernah sebelumnya memiliki pengalaman mengajar yang formal. Tanpa kata, rektor tersebut mengajak aku ke sebuah kelas dan berkata, perkenalkan dirimu kepada mahasiswa dan berikan pengantar tentang mata kuliah yang akan saya ajarkan. Ketika selesai, aku keluar kelas sambil mempersiapkan batinku untuk kata-kata, "mungkin kamu tidak cocok mengajar."

"Cukup baik." katanya,"tetapi mungkin kamu akan kesulitan karna kamu akan memulai semua dari awal, apakah kamu tidak keberatan dengan itu?" dari awal? aku sedang ditawari pekerjaan! aku menahan diri untuk tidak berteriak gembira dan berhasil menjawab dengan tenang,"ya, tidak masalah".

Tetapi ini bukan akhir dari cerita. Setiap hari aku diserang dengan keraguan. Apakah aku terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi? apakah penjelasanku terlalu sulit dipahami? apakah aku terlalu menjaga wibawa untuk mendapatkan rasa hormat? tetapi aku belajar setiap hari. Aku belajar tentang bagaimana membangun komunikasi yang positif, mengenali setiap orang dan memperlakukan mereka sama baiknya, selalu update dengan isu terkini, rajin menonton berita, dan masih banyak lagi. Setiap hari membawa tantangannya dan tanpa sadar aku sedang jatuh cinta dengan apa yang kukerjakan sekarang. Aku melakukan semuanya dengan sepenuh hati dan aku mendapatkan feedback yang sama baiknya. Untuk pertama kalinya aku menyadari kalau cinta itu harus setara, effort kita harus sama banyaknya antara memberi dan menerima.

Ironisnya, setahun kemudian aku didekati oleh perusahaan lama tempat aku bekerja. Sepertinya situasi mereka kurang beruntung menghadapi kompetitor, dan mereka mengharapkan saya untuk kembali. Coba tebak, itu adalah giliranku untuk mengatakan,"tidak, terima kasih."


Kita Berteman Saja

Hari ini cukup berawan, matahari masih enggan bersinar sejak pagi hari. Dan aku pun masih enggan meninggalkan tempat tidurku.

“kita berteman saja ya.” Katamu lembut saat pertemuan terakhir kita.

“maksudmu?”

“yah, kalau kita bertemu, aku ingin kita bisa seperti teman biasa. Saling menyapa, ngobrol, bercanda …” kata-katamu berakhir lirih. Wajahmu menunduk.

“tentu. Kita masih akan berteman kok. Jangan kwatir. Kalau berpapasan, aku akan tersenyum menyapa dan melambaikan tangan.” Kataku dengan nada bercanda membesarkan hatimu.

Bertahun-tahun berlalu, aku tidak pernah melihatmu lagi. Aku bersyukur, karena percakapan terakhir kita mengajarkanku apa yang kamu maksud dengan mengatakan ingin tetap berteman.

Berteman dengan masa lalu tidak sesederhana yang pernah aku bayangkan!

Mungkin dengan mengajak berteman, mantan ingin kita berpura-pura tidak pernah memiliki perasaan yang lebih dalam dan harus bisa menyembunyikan rasa sakit yang kita rasakan. Tapi bagaimana caranya?

Seandainya kita mau jujur, sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menampar pipimu lalu tersedu sedan menutupi tetesan airmatanya. Sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menghiasi mimpi dan khayalan indah. Sulit untuk ‘hanya berteman’ dengan seseorang yang pernah memotong ikatan hati.

Mungkin kita dapat dengan mudah menyembunyikan emosi di balik senyum yang dipaksakan. Tapi kenyataan yang sesungguhnya adalah kita tidak tau apa arti sesungguhnya berteman dengan seseorang yang pernah kita cintai.

Seseorang pernah berkata padaku,”kan tinggal berteman, apa sih susahnya?”

Susah, karena arti dan rasa dari kata ‘teman’ itu begitu cair. Coba pikirkan berbagai jenis teman yang kita miliki, seperti teman kerja, teman kuliah, teman SMA, atau teman tapi mesra ^_^

Bentuk pertemanan pun ada berbagai bentuk. Ada teman ‘transaksional’ yang kapan pun masa manfaat berakhir demikian pula hubungan pertemanan, ada pula teman ‘emosional’ yang hubungannya terjalin karena memiliki ikatan emosi atau kesenangan yang sama pada waktu tertentu.

Lalu, dimana letak pertemanan kita berada?

ilustrasi orang yang sedang bimbang dalam memutuskan sesuatu


Belum lagi keberadaan mantan dalam daftar pertemanan kita di social media. Oke mungkin kita sudah jarang bertemu secara fisik. Namun dengan alasan ‘silahturahmi’, hubungan kita masih terjaga sebagai bagian dari dunia virtual kita dengan segala pemberitahuan dan pembaharuannya. Dan apesnya adalah segala pembaharuan itu sama sekali menahan kita untuk beranjak dari masa lalu.

Tidak peduli seberapa lama kita menjalin hubungan, kebenarannya adalah semua itu sudah selesai. Ini menggarisbawahi fakta bahwa kita tidak lagi memiliki hak untuk mengatakan apa yang sedang aku atau kamu lakukan, mengomentari atau melarang.

Perpisahan itu sulit. Namun melanjutkan hidup setelah berpisah dengan orang yang kita cintai justru jauh lebih sulit lagi. Kita tidak sedang memulai dari nol, tetapi kita memulai dari sesuatu yang berantakan, tercabik, terluka, dan terpuruk. Dan ini sulit.

Seminggu Sebelumnya

“slamat pagi” seseorang baru saja memasuki ruanganku.

“slamat pagi juga. Silahkan duduk” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer.

Hari ini ada pekerjaan mendesak yang harus segera beres. Sebenarnya tinggal sedikit polesan agar rapi sebelum diserahkan, jadi saya putuskan untuk tidak teralihkan. Sayangnya suara barusan cukup familiar.

Perlahan kualihkan pandanganku ke sosok yang barusan muncul didepanku.

Ya, di depanku berdiri seseorang yang pernah dengan tangguh menantang kerasnya perguruan tinggi demi sebuah cita-cita, dan aku ada dalam cerita heroik itu.

“hai…” sapamu sambil tersenyum lebar. Kaca daun jendela serasa kehilangan kebeningannya.

“hai juga.” Jawabku singkat. Rasa terkejut belum mampu kuatasi

“bagaimana kabarmu?” kamu bertanya. Senyummu makin lebar nangkring memperlihatkan barisan putih gigi-gigimu.

“kabar baik”

Benar kata pepatah, one good things in the morning can change your whole day. Entah kenapa waktu terasa berjalan mundur, saat ini.


Kamu dan Gombalanmu


Ting...

Nada khas dari ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Etmus.

“Malam cantik”

Aku mengangkat alis. Ringkas, seperti sapaan biasa. Kupikir ini hanya pesan basa-basi, dan aku sedang terlalu lelah untuk membalas dengan antusias. Maka kutulis datar:

“Malam juga”

Hari ini terlalu panjang. Ponsel bukan hiburan, hanya benda kecil yang menunda kesepian. Aku menaruhnya di atas meja lalu merebahkan diri di sofa, mencari jeda dari penat pulang kerja.

Ting...

Ponsel kembali bergetar. Aku meraihnya, setengah penasaran.

“Lagi apa ini?”

Hmm... tidak biasanya dia seaktif ini malam-malam begini.

“Lagi balas chat kamu,” balasku.

Lalu... pesan baru masuk.

“Hehehe... iya juga yah…”
“Btw mama kamu manusia kan?”

Aku mengernyit. Pertanyaan aneh.

“Iya lah, mang... kenapa?”

Dan saat balasan berikutnya muncul, aku tertawa.

“Tapi kok aneh yah... anaknya bidadari.”

Tawa kecil lolos dari bibirku. Jemariku mulai bergerak lebih lincah di layar.

“Aaaahhh bisa aja kamu…”

Percakapan mulai terasa hangat, seperti teh manis di malam yang sunyi.

“Jangan keluar malam malam yah, cantik,” tulis Etmus lagi.

Aku membalas cepat:

“Emang kenapa?”

“Gak ada pelangi yang keluar malam hari.”

Mataku membelalak sambil menahan senyum. Rasanya seperti ditimpa pelangi di dalam hati. Aku mengetik sambil cekikikan sendiri:

“Bisa gak sih kamu diam?”

“Diam gimana?” balasnya.

“Diam di hatiku… jangan ke mana-mana yah.”

Ting...

“Hahaha…”
“Ada yang aneh minggu kemarin,” tulisnya.

“Aneh apa?” balasku.

“Aku nanem sayur.”

“Terus?” kubalas penasaran.

“Yang subur malah perasaan aku ke kamu.”

Aku terdiam sebentar. Kalimat itu sederhana, tapi cara Etmus mengatakannya terasa seperti pelukan jarak jauh. Senyumku mekar lagi.

“Hidup mang pahit. Makanya Tuhan ciptakan kamu... biar ada manis-manisnya.”

Lalu ia menulis:

“Eh kamu bisa geser gak sih?”

Aku menjawab sambil menggigit bibir menahan senyum:

“Geser ke mana?”

“Ke sebelahku… soalnya aku capek ngetik. Mau bilang langsung di kuping kamu.”

Kubaca kembali pesan Etmus dari atas sambil senyum sendiri.
Benar kata orang, one small thing can change your whole day.
Bukan saja penat karena pekerjaan hari ini, kangen hari ini pun… terobati.



Typing From Heart

 


Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa.

Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat

dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh

pengertian dan lemah lembut.


Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin

menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman.


Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah

mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya

tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?"


Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.


Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari

pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan

dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki

pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan

sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam

5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan

dan melepas kerinduan.


Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam

perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing

di jalan raya, mendadak menikung tajam.....


Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah

sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya.

Mereka lantas memanggil dokter.


"Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar.


Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan

memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan

yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.


Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari

setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat

bersuara?


Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka,

untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."


"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut

lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak

bersuara.


Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan

waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak

lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai

berpikir untuk pindah rumah.


Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah

membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan

jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar

lautan.


Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa

yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk

berkomunikasi dengan orang lain.


Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja

sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak

mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar

tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya

yang berat, pergi membuka pintu.


Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan

pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke

hadapanku.


Dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, menikahlah denganku!"


Cinta dan (tanpa) Syarat

Beberapa hari lalu, seorang klien kami datang ke perusahaan tempat saya bekerja. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya penuh harapan. Ia ingin mengetahui apakah memungkinkan untuk mendapatkan fasilitas restrukturisasi atas pinjamannya—sebuah pertanyaan yang menandakan adanya beban finansial yang semakin berat.

Saya bertanya apa yang membuatnya membutuhkan fasilitas “khusus” tersebut. Dengan suara pelan namun tegar, ia mulai bercerita: sejak kematian suaminya akhir tahun lalu, kondisi finansialnya mulai memburuk. Ia tidak memiliki anak kandung yang bisa membantu, sementara anak-anak suaminya dari pernikahan sebelumnya memilih tidak hadir dalam hidupnya.

Di usia senja, ia seharusnya menikmati waktu dengan cucu, bercanda di sore hari tanpa khawatir tentang esok. Tetapi kenyataan berbeda—ia sendiri, menanggung beban yang seharusnya tidak perlu ia pikul sendirian.

Saat mendengar ceritanya, hati saya terasa berat. Penelantaran, Tidak ada penerimaan, Pembiaran, Dibuang. Semua rasa itu bercampur, membentuk perasaan yang sulit dijelaskan.

Ilustrasi cinta tanpa syarat dalam hubungan manusia


Apakah cinta tanpa syarat itu benar-benar ada?

Entah sejak kapan kata "ibu tiri" menjadi sebuah label yang membawa jarak emosional. Banyak dari kita tumbuh dengan cerita yang menggambarkan sosok ibu tiri sebagai sosok asing—kadang dingin, kadang antagonis. Seakan hubungan itu tidak pernah bisa benar-benar menjadi "keluarga".

Apakah karena tidak ada ikatan darah? Apakah karena masyarakat telah lama mengajarkan bahwa "ibu tiri" adalah sesuatu yang berbeda dari "ibu"?

Faktanya, tidak semua ibu tiri seperti kisah-kisah dalam dongeng. Ada yang merawat dengan sepenuh hati, ada yang mencintai seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi cinta, sesungguhnya, bukan sesuatu yang otomatis hadir—kadang ia butuh ruang untuk tumbuh, dan jika tidak diberikan kesempatan, maka ia mati sebelum sempat mekar.

Ketika Cinta Berhadapan Dengan Keadaan

Kenyataan diatas merupakan fragmen kecil dari sesuatu yang lebih besar – cinta bersyarat. Apakah yang mengikat sebuah hubungan adalah perasaan, ataukah keadaan? Apakah cinta hanya bertahan selama ada struktur yang menopang?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saat saya merenungi kisah ibu tersebut, saya bertanya pada diri sendiri:
"Berapa banyak orang di sekitar kita yang mungkin diam-diam merasa dilupakan?"

Mungkin ada seseorang yang kita kenal—tetangga, kerabat jauh, atau bahkan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita tetapi tidak lagi kita pedulikan.

Tidak semua hubungan memiliki ikatan darah, tetapi semua hubungan bisa memiliki ikatan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang ingin menghabiskan hidupnya dalam kesendirian. Tidak ada yang ingin merasa bahwa di dunia ini, tidak ada seorang pun yang masih melihat keberadaannya.

Mungkin penerimaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Tetapi mungkin juga, itu bukan sesuatu yang harus menjadi kemewahan.


Senja di Ujung Suara

Ruangan terasa lebih sempit dari biasanya, seolah dinding-dindingnya mendekat, mengurung dua orang yang kini berdiri di sisi berlawanan. Suaminya, masih mengenakan kemeja kerja yang tak lagi punya tempat untuk ia datangi besok, menggenggam selembar surat dengan tangan gemetar.

Amplop terakhir di atas album pernikahan, menyimpan pesan yang mengubah segalanya

Di seberang sana, sang istri memandangnya dengan mata yang tidak lagi berbinar. Keheningan menggantung di antara mereka, begitu kaku hingga suara jam dinding terasa menggema di ruangan. Ia meraih surat itu, membaca sepintas—bukan karena kesalahan, bukan karena kelalaian, hanya angka-angka dan perubahan strategi.

Namun bagi sang istri, yang tertera di kertas itu bukan sekadar keputusan bisnis, melainkan perubahan nasib.

"Apa maksudmu… kamu tidak bekerja lagi?" suaranya bergetar, bukan karena simpati, tetapi karena sesuatu yang lebih dingin.

Hari-hari berlalu dengan perubahan kecil yang semakin terasa. Tidak ada lagi obrolan ringan tentang liburan, tidak ada kebanggaan yang dipamerkan di depan keluarganya. Sebaliknya, saat makan malam bersama keluarga besar, mereka mulai bertanya dengan nada berbeda.

"Sekarang bagaimana? Kamu sudah dapat pekerjaan baru?"

Seakan kehilangan pekerjaannya adalah kehilangan identitasnya.


Dini hari, jalanan masih basah oleh embun, dan lampu-lampu kota berpendar sendu. Di tengah dinginnya pagi, seorang pria duduk di atas motornya, mengenakan jaket hijau dengan logo perusahaan transportasi online yang kini menjadi sumber penghasilannya.

Menjadi ojol bukan keputusan yang diambil dengan mudah—tapi hidup tidak memberi banyak pilihan.

Saat istrinya mengetahui itu, reaksinya tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan kesedihan karena kondisi mereka, bukan kekhawatiran akan pendapatan yang tak menentu.

Melainkan air mata yang jatuh karena keputusan suaminya.

"Bukan ini yang aku bayangkan…" suaranya hampir tak terdengar, tetapi dinginnya menusuk lebih tajam dari udara malam.

Hari-hari berlalu, dan suaminya pulang semakin larut. Kadang tak ada makanan di meja, hanya tubuh yang lelah dan perut yang kosong. Tapi ia tetap bekerja, tetap berharap dapur tetap berasap.


Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Di sebuah kamar rumah sakit yang redup, seorang pria terbaring lemah, napasnya terputus-putus, dan tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali ia bercermin.

Di kursi di sudut ruangan, istrinya duduk, memandangnya tanpa banyak kata. Ia sudah melewati kesedihan yang berlebihan—tidak ada air mata, tidak ada doa panjang. Hanya keheningan yang memenuhi jarak di antara mereka.

Dokter datang, menjelaskan kondisinya yang semakin memburuk. Hanya beberapa hari berlalu sebelum akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya.

Saat semuanya berakhir, sang istri tidak menangis. Keluarga pun hanya diam, tanpa banyak bicara. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya tatap pasrah yang seakan berkata, mungkin ini yang terbaik.


Waktu berlalu seperti aliran sungai yang tenang, namun terasa lebih dingin. Setelah peringatan 40 hari, hidup berjalan seperti biasa—tidak ada lagi suara motor berhenti di depan rumah, tidak ada lagi percakapan yang terasa hambar.

Hingga suatu sore, di antara kebosanan yang tanpa arah, matanya tertuju pada lemari tua di sudut kamar. Ada sebuah album pernikahan yang selama ini tersimpan tanpa pernah dibuka.

Ia menariknya keluar, duduk di tepi tempat tidur, dan mulai membuka lembar demi lembar. Foto-foto kebahagiaan itu seolah berbicara, memperlihatkan senyuman yang dulu terasa begitu hangat. Namun di antara halaman, ada sesuatu yang lain—sebuah amplop kecil terselip di dalamnya.

"Untuk Istriku."

Dua kata itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya gemetar saat mengambilnya, dadanya terasa sesak. Ada apa ini? Kapan suaminya menulisnya?

Ia membuka perlahan.


Tangannya gemetar saat menarik kertas dari dalam amplop. Nafasnya tersendat, seakan tubuhnya tahu lebih dulu bahwa kata-kata di dalamnya akan mengubah segalanya.

"Untuk istriku,"

"Maafkan aku. Aku tidak mampu memberikan yang terbaik untuk membuatmu bahagia. Aku tidak pernah ingin menjadi ojol, tapi aku tidak bisa membiarkan kita kehabisan bahan makanan. Kadang aku pulang larut, tidak ada makanan di meja, aku hanya bisa tidur dalam kelaparan."

Matanya mulai basah, tapi ia tetap membaca.

"Suatu hari aku bertemu seseorang. Dia butuh donor hati, dan aku butuh uang. Aku pikir, kalau aku memberikan bagian tubuhku untuknya, aku bisa memberikan sesuatu yang lebih baik untukmu. Mungkin saja, kamu akan mencintaiku seperti diawal"

Di dalam amplop, terselip sebuah cek senilai lima miliar rupiah—sebuah angka yang menutup perjalanan hidup seorang pria yang hanya ingin dihargai kembali seperti dulu.


Amplop itu tergeletak di pangkuannya, cek senilai lima miliar masih tergenggam di tangan. Ia memandangnya lama, tapi tidak ada rasa lega, tidak ada kebanggaan.

Ia menghela napas, menatap ke luar jendela.

Dulu, ketika suaminya masih ada, ia tidak pernah berpikir bahwa kehilangan bisa terasa seperti ini—bukan duka, bukan kesedihan, tetapi kehampaan yang tidak bisa diabaikan.