Kamu dan Gombalanmu


Ting...

Nada khas dari ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Etmus.

“Malam cantik”

Aku mengangkat alis. Ringkas, seperti sapaan biasa. Kupikir ini hanya pesan basa-basi, dan aku sedang terlalu lelah untuk membalas dengan antusias. Maka kutulis datar:

“Malam juga”

Hari ini terlalu panjang. Ponsel bukan hiburan, hanya benda kecil yang menunda kesepian. Aku menaruhnya di atas meja lalu merebahkan diri di sofa, mencari jeda dari penat pulang kerja.

Ting...

Ponsel kembali bergetar. Aku meraihnya, setengah penasaran.

“Lagi apa ini?”

Hmm... tidak biasanya dia seaktif ini malam-malam begini.

“Lagi balas chat kamu,” balasku.

Lalu... pesan baru masuk.

“Hehehe... iya juga yah…”
“Btw mama kamu manusia kan?”

Aku mengernyit. Pertanyaan aneh.

“Iya lah, mang... kenapa?”

Dan saat balasan berikutnya muncul, aku tertawa.

“Tapi kok aneh yah... anaknya bidadari.”

Tawa kecil lolos dari bibirku. Jemariku mulai bergerak lebih lincah di layar.

“Aaaahhh bisa aja kamu…”

Percakapan mulai terasa hangat, seperti teh manis di malam yang sunyi.

“Jangan keluar malam malam yah, cantik,” tulis Etmus lagi.

Aku membalas cepat:

“Emang kenapa?”

“Gak ada pelangi yang keluar malam hari.”

Mataku membelalak sambil menahan senyum. Rasanya seperti ditimpa pelangi di dalam hati. Aku mengetik sambil cekikikan sendiri:

“Bisa gak sih kamu diam?”

“Diam gimana?” balasnya.

“Diam di hatiku… jangan ke mana-mana yah.”

Ting...

“Hahaha…”
“Ada yang aneh minggu kemarin,” tulisnya.

“Aneh apa?” balasku.

“Aku nanem sayur.”

“Terus?” kubalas penasaran.

“Yang subur malah perasaan aku ke kamu.”

Aku terdiam sebentar. Kalimat itu sederhana, tapi cara Etmus mengatakannya terasa seperti pelukan jarak jauh. Senyumku mekar lagi.

“Hidup mang pahit. Makanya Tuhan ciptakan kamu... biar ada manis-manisnya.”

Lalu ia menulis:

“Eh kamu bisa geser gak sih?”

Aku menjawab sambil menggigit bibir menahan senyum:

“Geser ke mana?”

“Ke sebelahku… soalnya aku capek ngetik. Mau bilang langsung di kuping kamu.”

Kubaca kembali pesan Etmus dari atas sambil senyum sendiri.
Benar kata orang, one small thing can change your whole day.
Bukan saja penat karena pekerjaan hari ini, kangen hari ini pun… terobati.



Lirama

 

Prolog

Aku tidak pernah tahu bahwa cinta bisa terasa indah dan sekaligus menyakitkan seperti ini.

Malam itu hujan turun perlahan, membasahi jendela kamar rumah sakit yang menghadap ke taman kecil. Tirai krem tipis menahan cahaya dari lampu taman, menciptakan bayangan lembut yang menari-nari di lantai putih. Di sudut ruangan, inkubator berdiri tenang, menghadap langsung ke tempat tidurku. Dari posisiku yang setengah rebah, aku bisa melihat wajah mungil di balik kaca—bayi kecilku yang baru lahir, matanya masih berat, napasnya pelan seperti sedang bermimpi tentang dunia yang belum sepenuhnya ramah.

Di antara inkubator dan jendela, ia berdiri. Suamiku. Punggungnya menghadap anak kami, wajahnya tertunduk, memandangi genangan hujan di balik kaca. Ia tidak mendekat. Bahkan ketika aku menoleh, berharap ia akan menatapku, menyentuh tanganku, atau sekadar berkata sesuatu yang hangat—ia tetap diam.

Gambar ibu dan anak di tepi pantai saat senja


Dokter sempat menjelaskan perlahan, seolah kata-kata adalah benda rapuh yang bisa pecah jika diucapkan terlalu keras. “Trisomi dua puluh satu,” katanya, “kondisi seumur hidup… perlu pendampingan khusus.” Aku mencatat nadanya, bukan kalimatnya. Dan aku tahu, dalam ruang yang kecil ini, hidup kami berubah selamanya.

Lalu suamiku berbicara. Tidak kepada siapa pun. Mungkin kepada bayangan dirinya sendiri.

“Kalau aku tahu ujungnya seperti ini, aku tidak akan pernah menikah… apalagi punya anak seperti dia.”

Suaranya datar. Dingin. Dan tetap menatap keluar jendela seakan jawabannya ada di balik hujan.

Aku tidak tahu yang lebih melukai—kalimatnya, atau kenyataan bahwa ia mengucapkannya di hadapan anak kami yang bahkan belum sempat memanggilnya "Ayah."

Malam itu, aku tidak menangis. Aku hanya memeluk selimut dan menatap cahaya redup dari inkubator yang tampak seperti lentera kecil di sudut malam. Dan dalam hati yang mulai retak, aku tahu… aku akan menjadi segalanya sendirian.

Ketika Cinta Saja Tidak Cukup

Awalnya, kami adalah pasangan biasa. Kami tidak punya banyak, tapi cukuplah. Ia bekerja sebagai teknisi jaringan, sering pulang malam dengan bau asap rokok yang melekat di jaketnya. Aku, seorang guru les privat, mengisi sore hari dengan suara anak-anak yang tertawa di ruang tamu kecil kami. Kami menikah tanpa pesta mewah, hanya doa, nasi kuning, dan tawa dari keluarga yang menyempil di bawah tenda sempit.

Aku mencintainya—bukan karena ia sempurna, tapi karena aku percaya kami sama-sama belajar menjadi lebih baik.

Ada sore hari di mana ia memijat kakiku sambil mencandai bentuk perutku yang mulai membuncit. “Pasti anak laki-laki,” katanya. “Kita latih dari kecil main bola.”

Saat itu aku percaya, bahwa kami akan menjadi tim: ayah, ibu, anak. Sebuah tim kecil yang cukup untuk menantang dunia.

Kami hidup di antara kabel kusut dan buku-buku pelajaran. Pekerjaan kami jauh dari kata glamor, tapi kami saling tertawa saat melihat saldo rekening tinggal sepuluh ribu. Ia sering berkata, “Yang penting bukan sisa uangnya, tapi sisa semangatnya.” Dan aku percaya itu—waktu itu.

Sabtu pagi adalah waktu terbaik kami. Ia mencuci motor sambil menyetel lagu-lagu lama dari radio butut, dan aku menyiram tanaman di pagar rumah kontrakan. Kami saling melempar senyum yang nyaris selalu berujung pada lelucon atau saling meledek.

Dalam kesederhanaan itu, kami sempat percaya bahwa cukup itu benar-benar cukup.

Saat dua garis merah muncul di test pack, aku tidak menangis, hanya tertawa kecil dan memegang perutku dengan gemetar. Ia memelukku dari belakang dan membisikkan, “Terima kasih ya… kamu luar biasa.”

Kami mulai menyiapkan kamar kecil di pojok rumah. Dindingnya dicat kuning pucat; raknya kami isi dengan baju bayi bekas dari teman kerjaku. Kami tahu hidup tidak akan mudah, tapi selama kami bersama, semuanya terasa bisa dijalani.

Tapi, bulan ketujuh membawa sesuatu yang berbeda. Dokter tidak lagi tersenyum penuh saat membaca hasil pemeriksaan. Ia bertanya apakah kami ingin melakukan screening lanjutan.

Sepulang dari rumah sakit, ia mengemudi dalam diam. Di motor, aku memeluk perutku, mencoba menerjemahkan heningnya. “Mungkin dokternya terlalu hati-hati,” kataku, dengan senyum yang lebih condong ke gugup. Ia hanya mengangguk.

Setelah hari itu, aku mulai kehilangan suara-suara kecil yang dulu membuat rumah kami hidup. Ia mulai pulang larut, sering mengaku lembur. Televisi sering menyala tanpa ada yang menonton. Bantal di sofa mulai punya bekas tidur selain milikku.

Aku menolak menganggap itu awal dari kepergian. Aku hanya berpikir, mungkin ia juga takut. Takut anak kami akan lahir berbeda. Takut kami tak akan cukup.

Tapi kini aku tahu, bukan kami yang tak cukup.

Ketika Takdir memanggilku…

Tiada yang meminta seperti ini, tapi menurutku Tuhan itu baik… merangkai ceritaku sehebat ini…

Tiga kali seminggu, kami menapaki jalan yang sama. Fisioterapi. Terapi okupasi. Kadang stimulasi wicara. Ruangannya tidak luas, hanya dilapisi busa tipis dan mainan sederhana. Aku duduk bersila di pojok tikar, mencatat setiap instruksi terapis: putaran pergelangan, latihan duduk tegak, artikulasi perlahan. Anakku kadang menangis, kadang tertawa, dan aku belajar menahan diri—tidak buru-buru memeluk, tidak segera menyelesaikan kesulitan. Terapi mengajariku bahwa kasih juga butuh jarak agar menjadi kekuatan.

Di rumah, ruang tamu kami berubah fungsi menjadi tempat belajar. Rak buku digeser ke pojok, matras dibentang, poster alfabet menempel miring di dinding. Kami menyebutnya “tempat main serius.” Di situ, aku melatih jemarinya menggenggam sendok, menyebut warna dari tutup botol, atau sekadar menyalakan dan mematikan saklar lampu sambil menyebutkan “on” dan “off”. Kemajuan tak selalu terlihat, tapi aku percaya semua usaha meninggalkan jejak.

Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, dan membawanya saat bekerja hanya membuat semuanya kacau. Jadi aku memutuskan mengajar les di rumah. Setiap sore, dua hingga tiga anak datang bergiliran. Mereka duduk di meja kecil, membahas pecahan atau membuat kalimat dengan kata depan. Anakku bermain di sudut ruangan, mencoret-coret lantai dengan spidol kering, atau mengejar bayangan dari daun yang bergerak di jendela.

Malam hari, ketika semua sudah tidur, aku duduk di lantai dekat kasur, membereskan mainan, mencatat kembali perkembangan harian, lalu mematikan lampu perlahan. Tidak ada keluhan, tidak ada pahlawan. Hanya seorang ibu yang terus berjalan, karena cinta tak butuh tepuk tangan untuk tetap hidup.

Epilog — Surat dari Satu Ibu ke Dunia

Untukmu, yang malam ini kembali tertidur di samping anakmu setelah hari yang panjang...

Aku tahu rasanya seperti berdiri sendirian di atas kapal bocor, menahan air dengan tangan kosong. Rasanya seperti tidak ada yang benar-benar mengerti, bahkan keluarga terdekat. Tapi dengarkan aku—aku pernah berada di titik itu. Titik di mana dunia terasa terlalu berat, dan cinta yang kupunya rasanya tak cukup untuk menutupi kekurangan segalanya.

Tapi ternyata... cukup.

Bukan karena aku sempurna. Bukan karena aku tak pernah menangis, atau tak pernah ingin menyerah. Tapi karena setiap kali aku bangkit—walau dengan lutut gemetar—aku melihat matanya. Anak itu. Anak yang membuatku tetap hidup ketika yang lain pergi.

Kamu tidak sendirian.

Ada kami—para orang tua yang pernah ditinggal di tengah kehamilan, yang pernah mendengar kata-kata paling menyakitkan dari orang yang dulu kami cintai. Kami bertahan bukan karena kami kuat, tapi karena kami tahu siapa yang harus kami lindungi.

Mandiri itu bukan tentang mengurus semuanya sendiri. Tapi tentang tahu kapan harus berjalan meski tak ada yang menawarkan tangan.

Jadi, kalau malam ini kamu merasa lelah… tidur saja dulu. Besok, kita bangun lagi. Bukan demi membuktikan apa-apa, tapi karena anak kita berhak tumbuh melihat dunia dengan mata penuh harapan.

Dan kamu... kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Dari satu ibu yang dulu berpikir ia takkan sanggup.

Typing From Heart

 


Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa.

Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat

dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh

pengertian dan lemah lembut.


Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin

menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman.


Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah

mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya

tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?"


Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.


Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari

pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan

dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki

pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan

sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam

5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan

dan melepas kerinduan.


Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam

perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing

di jalan raya, mendadak menikung tajam.....


Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah

sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya.

Mereka lantas memanggil dokter.


"Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar.


Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan

memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan

yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.


Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari

setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat

bersuara?


Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka,

untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."


"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut

lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak

bersuara.


Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan

waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak

lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai

berpikir untuk pindah rumah.


Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah

membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan

jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar

lautan.


Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa

yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk

berkomunikasi dengan orang lain.


Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja

sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak

mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar

tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya

yang berat, pergi membuka pintu.


Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan

pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke

hadapanku.


Dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, menikahlah denganku!"


Cinta dan (tanpa) Syarat

Beberapa hari lalu, seorang klien kami datang ke perusahaan tempat saya bekerja. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya penuh harapan. Ia ingin mengetahui apakah memungkinkan untuk mendapatkan fasilitas restrukturisasi atas pinjamannya—sebuah pertanyaan yang menandakan adanya beban finansial yang semakin berat.

Saya bertanya apa yang membuatnya membutuhkan fasilitas “khusus” tersebut. Dengan suara pelan namun tegar, ia mulai bercerita: sejak kematian suaminya akhir tahun lalu, kondisi finansialnya mulai memburuk. Ia tidak memiliki anak kandung yang bisa membantu, sementara anak-anak suaminya dari pernikahan sebelumnya memilih tidak hadir dalam hidupnya.

Di usia senja, ia seharusnya menikmati waktu dengan cucu, bercanda di sore hari tanpa khawatir tentang esok. Tetapi kenyataan berbeda—ia sendiri, menanggung beban yang seharusnya tidak perlu ia pikul sendirian.

Saat mendengar ceritanya, hati saya terasa berat. Penelantaran, Tidak ada penerimaan, Pembiaran, Dibuang. Semua rasa itu bercampur, membentuk perasaan yang sulit dijelaskan.

Ilustrasi cinta tanpa syarat dalam hubungan manusia


Apakah cinta tanpa syarat itu benar-benar ada?

Entah sejak kapan kata "ibu tiri" menjadi sebuah label yang membawa jarak emosional. Banyak dari kita tumbuh dengan cerita yang menggambarkan sosok ibu tiri sebagai sosok asing—kadang dingin, kadang antagonis. Seakan hubungan itu tidak pernah bisa benar-benar menjadi "keluarga".

Apakah karena tidak ada ikatan darah? Apakah karena masyarakat telah lama mengajarkan bahwa "ibu tiri" adalah sesuatu yang berbeda dari "ibu"?

Faktanya, tidak semua ibu tiri seperti kisah-kisah dalam dongeng. Ada yang merawat dengan sepenuh hati, ada yang mencintai seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi cinta, sesungguhnya, bukan sesuatu yang otomatis hadir—kadang ia butuh ruang untuk tumbuh, dan jika tidak diberikan kesempatan, maka ia mati sebelum sempat mekar.

Ketika Cinta Berhadapan Dengan Keadaan

Kenyataan diatas merupakan fragmen kecil dari sesuatu yang lebih besar – cinta bersyarat. Apakah yang mengikat sebuah hubungan adalah perasaan, ataukah keadaan? Apakah cinta hanya bertahan selama ada struktur yang menopang?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saat saya merenungi kisah ibu tersebut, saya bertanya pada diri sendiri:
"Berapa banyak orang di sekitar kita yang mungkin diam-diam merasa dilupakan?"

Mungkin ada seseorang yang kita kenal—tetangga, kerabat jauh, atau bahkan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita tetapi tidak lagi kita pedulikan.

Tidak semua hubungan memiliki ikatan darah, tetapi semua hubungan bisa memiliki ikatan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang ingin menghabiskan hidupnya dalam kesendirian. Tidak ada yang ingin merasa bahwa di dunia ini, tidak ada seorang pun yang masih melihat keberadaannya.

Mungkin penerimaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Tetapi mungkin juga, itu bukan sesuatu yang harus menjadi kemewahan.


Let It Go

Ada satu hal tentang masa lalu yang jarang kita bicarakan: ia tidak benar-benar pergi.

Ia tidak selalu muncul sebagai kenangan yang jelas, tetapi kadang hadir dalam bentuk perasaan yang sulit dijelaskan. Bisa dalam sebuah lagu yang tiba-tiba terdengar di tempat umum, dalam aroma yang mengingatkan kita pada rumah lama, atau bahkan dalam keheningan yang terasa terlalu familiar. Masa lalu memiliki caranya sendiri untuk menemukan kita—bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mengingatkan bahwa ia masih ada.

Dan sering kali, kita berpikir bahwa kita telah bergerak jauh darinya. Bahwa waktu sudah cukup untuk membuat segalanya hilang. Tetapi kenyataannya, tidak semua yang berlalu benar-benar pergi.

Ada thread horor tentang bertemu dengan hantu. Namun ada yang lebih menakutkan daripada itu—bertemu dengan kesalahan masa lalu. Kita bisa berlari dari hantu, tetapi kita tidak bisa bersembunyi dari diri sendiri.

                                 ilustrasi orang yang sedang dibayangi masa lalunya

Ketakutan yang Diam-Diam Bertahan

Ketakutan yang diam-diam bertahan sering kali sulit dihadapi daripada rasa takut yang terlihat jelas. Ia tidak berteriak, tidak menuntut perhatian, tetapi bersembunyi dalam keputusan kecil, dalam batas yang kita bangun untuk melindungi diri, dalam cara kita merespon dunia di sekitar kita.

Ia muncul dalam bentuk kehati-hatian yang berlebihan, dalam jarak yang sengaja dibuat, dalam kebutuhan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi hal yang bisa menyakiti seperti sebelumnya.

Saat kehidupan menguji kita dengan badai yang begitu besar, kita belajar bertahan. Tetapi setelah badai berlalu, bekasnya tetap tertinggal.

Kita menyadari bahwa meskipun kita telah melewati masa sulit, ada batasan yang mulai kita bangun sendiri. Kita berhati-hati dalam memilih lingkungan, saya menjaga jarak dengan situasi tertentu, kita menghindari hal-hal yang berpotensi menempatkan kita kembali dalam kondisi yang dulu begitu menyakitkan.

Ini bukan karena kita belum sembuh—kita sudah jauh lebih baik. Tetapi bekas luka memiliki suara, dan kadang-kadang, suara itu berbicara lebih keras daripada yang kita inginkan.

Terkadang, saat kehidupan menempatkan kita dalam situasi yang mirip dengan masa lalu itu, muncul rasa takut bahwa semuanya bisa berulang. Pikiran mulai bermain dengan skenario yang paling buruk, dan naluri pertama yang muncul adalah melindungi diri dengan cara apa pun.

Kita membangun tembok—bukan untuk mengisolasi diri, tetapi untuk menjaga agar tidak lagi jatuh ke dalam kesakitan yang sama. Tetapi apakah tembok itu perlindungan, atau justru batasan yang menghalangi kita untuk benar-benar melangkah ke depan?

Berdamai dengan Diri Sendiri

Di suatu tempat, kamu mungkin saja pernah mendengar kalimat seperti ini,”waktu yang lama dan jarak yang jauh dapat menyembuhkan hati yang terluka”. Pepatah ini memiliki artian sebagai cara alami bagi seseorang untuk melepaskan diri dari rasa sakit, memberikan ruang bagi hati dan pikiran beradaptasi, menerima, dan menemukan kedamaian hati.

Saya pernah berpikir bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar sembuh adalah melupakan. Tetapi ternyata, melupakan bukanlah solusinya.

Lalu, apakah pepatah tersebut benar sepenuhnya? Itu tergantung. Waktu dan jarak memang bisa membantu mengurangi intensitas luka, tetapi tidak selalu menjamin penyembuhan. Ada luka yang, meskipun bertahun-tahun berlalu dan dunia berubah, tetap terasa karena tidak pernah benar-benar diproses atau diselesaikan.

Luka masa lalu tidak hilang begitu saja. Ia ada di sana—tersimpan dalam ingatan, dalam tindakan yang kita ambil untuk melindungi diri, dalam keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari. Tetapi yang lebih penting bukanlah melupakan, melainkan berdamai dengan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri berarti menerima bahwa ada bagian dalam hidup yang tidak bisa diubah, bahwa ada kejadian yang memang menyakitkan, bahwa ada pengalaman yang mungkin tidak akan pernah bisa kita hapus sepenuhnya. Tetapi kita memilih untuk tidak membiarkannya mendikte siapa kita hari ini.

Kita tidak lagi membiarkan ketakutan mengendalikan hidup kita, tetapi kita juga tidak mengabaikan keberadaannya. kita belajar untuk berkata kepada diri sendiri: Ya, saya pernah melalui hal yang sulit. Ya, aku pernah merasa ingin menyerah. Tapi aku ada di sini, sekarang, dan aku telah tumbuh.

Let It Go

Penyembuhan bukan hanya soal waktu dan jarak–tetapi juga tentang bagaimana seseorang memilih untuk berdamai dengan dirinya sendiri, menerima apa yang telah terjadi, dan membangun makna baru dari pengalaman itu.

Setiap orang yang pernah menghadapi masa sulit pasti membawa sesuatu darinya—entah itu trauma, kebijaksanaan, ketahanan, atau ketakutan yang diam-diam masih ada.

Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting bukanlah bagaimana cara melupakan?, tetapi bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri tanpa membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan?