Prolog
Aku tidak pernah tahu bahwa cinta bisa terasa indah dan sekaligus menyakitkan seperti ini.
Malam itu hujan turun perlahan, membasahi jendela kamar rumah sakit yang menghadap ke taman kecil. Tirai krem tipis menahan cahaya dari lampu taman, menciptakan bayangan lembut yang menari-nari di lantai putih. Di sudut ruangan, inkubator berdiri tenang, menghadap langsung ke tempat tidurku. Dari posisiku yang setengah rebah, aku bisa melihat wajah mungil di balik kaca—bayi kecilku yang baru lahir, matanya masih berat, napasnya pelan seperti sedang bermimpi tentang dunia yang belum sepenuhnya ramah.
Di antara inkubator dan jendela, ia berdiri. Suamiku. Punggungnya menghadap anak kami, wajahnya tertunduk, memandangi genangan hujan di balik kaca. Ia tidak mendekat. Bahkan ketika aku menoleh, berharap ia akan menatapku, menyentuh tanganku, atau sekadar berkata sesuatu yang hangat—ia tetap diam.
Dokter sempat menjelaskan perlahan, seolah kata-kata adalah benda rapuh yang bisa pecah jika diucapkan terlalu keras. “Trisomi dua puluh satu,” katanya, “kondisi seumur hidup… perlu pendampingan khusus.” Aku mencatat nadanya, bukan kalimatnya. Dan aku tahu, dalam ruang yang kecil ini, hidup kami berubah selamanya.
Lalu suamiku berbicara. Tidak kepada siapa pun. Mungkin kepada bayangan dirinya sendiri.
“Kalau aku tahu ujungnya seperti ini, aku tidak akan pernah menikah… apalagi punya anak seperti dia.”
Suaranya datar. Dingin. Dan tetap menatap keluar jendela seakan jawabannya ada di balik hujan.
Aku tidak tahu yang lebih melukai—kalimatnya, atau kenyataan bahwa ia mengucapkannya di hadapan anak kami yang bahkan belum sempat memanggilnya "Ayah."
Malam itu, aku tidak menangis. Aku hanya memeluk selimut dan menatap cahaya redup dari inkubator yang tampak seperti lentera kecil di sudut malam. Dan dalam hati yang mulai retak, aku tahu… aku akan menjadi segalanya sendirian.
Ketika Cinta Saja Tidak Cukup
Awalnya, kami adalah pasangan biasa. Kami tidak punya banyak, tapi cukuplah. Ia bekerja sebagai teknisi jaringan, sering pulang malam dengan bau asap rokok yang melekat di jaketnya. Aku, seorang guru les privat, mengisi sore hari dengan suara anak-anak yang tertawa di ruang tamu kecil kami. Kami menikah tanpa pesta mewah, hanya doa, nasi kuning, dan tawa dari keluarga yang menyempil di bawah tenda sempit.
Aku mencintainya—bukan karena ia sempurna, tapi karena aku percaya kami sama-sama belajar menjadi lebih baik.
Ada sore hari di mana ia memijat kakiku sambil mencandai bentuk perutku yang mulai membuncit. “Pasti anak laki-laki,” katanya. “Kita latih dari kecil main bola.”
Saat itu aku percaya, bahwa kami akan menjadi tim: ayah, ibu, anak. Sebuah tim kecil yang cukup untuk menantang dunia.
Kami hidup di antara kabel kusut dan buku-buku pelajaran. Pekerjaan kami jauh dari kata glamor, tapi kami saling tertawa saat melihat saldo rekening tinggal sepuluh ribu. Ia sering berkata, “Yang penting bukan sisa uangnya, tapi sisa semangatnya.” Dan aku percaya itu—waktu itu.
Sabtu pagi adalah waktu terbaik kami. Ia mencuci motor sambil menyetel lagu-lagu lama dari radio butut, dan aku menyiram tanaman di pagar rumah kontrakan. Kami saling melempar senyum yang nyaris selalu berujung pada lelucon atau saling meledek.
Dalam kesederhanaan itu, kami sempat percaya bahwa cukup itu benar-benar cukup.
Saat dua garis merah muncul di test pack, aku tidak menangis, hanya tertawa kecil dan memegang perutku dengan gemetar. Ia memelukku dari belakang dan membisikkan, “Terima kasih ya… kamu luar biasa.”
Kami mulai menyiapkan kamar kecil di pojok rumah. Dindingnya dicat kuning pucat; raknya kami isi dengan baju bayi bekas dari teman kerjaku. Kami tahu hidup tidak akan mudah, tapi selama kami bersama, semuanya terasa bisa dijalani.
Tapi, bulan ketujuh membawa sesuatu yang berbeda. Dokter tidak lagi tersenyum penuh saat membaca hasil pemeriksaan. Ia bertanya apakah kami ingin melakukan screening lanjutan.
Sepulang dari rumah sakit, ia mengemudi dalam diam. Di motor, aku memeluk perutku, mencoba menerjemahkan heningnya. “Mungkin dokternya terlalu hati-hati,” kataku, dengan senyum yang lebih condong ke gugup. Ia hanya mengangguk.
Setelah hari itu, aku mulai kehilangan suara-suara kecil yang dulu membuat rumah kami hidup. Ia mulai pulang larut, sering mengaku lembur. Televisi sering menyala tanpa ada yang menonton. Bantal di sofa mulai punya bekas tidur selain milikku.
Aku menolak menganggap itu awal dari kepergian. Aku hanya berpikir, mungkin ia juga takut. Takut anak kami akan lahir berbeda. Takut kami tak akan cukup.
Tapi kini aku tahu, bukan kami yang tak cukup.
Ketika Takdir memanggilku…
Tiada yang meminta seperti ini, tapi menurutku Tuhan itu baik… merangkai ceritaku sehebat ini…
Tiga kali seminggu, kami menapaki jalan yang sama. Fisioterapi. Terapi okupasi. Kadang stimulasi wicara. Ruangannya tidak luas, hanya dilapisi busa tipis dan mainan sederhana. Aku duduk bersila di pojok tikar, mencatat setiap instruksi terapis: putaran pergelangan, latihan duduk tegak, artikulasi perlahan. Anakku kadang menangis, kadang tertawa, dan aku belajar menahan diri—tidak buru-buru memeluk, tidak segera menyelesaikan kesulitan. Terapi mengajariku bahwa kasih juga butuh jarak agar menjadi kekuatan.
Di rumah, ruang tamu kami berubah fungsi menjadi tempat belajar. Rak buku digeser ke pojok, matras dibentang, poster alfabet menempel miring di dinding. Kami menyebutnya “tempat main serius.” Di situ, aku melatih jemarinya menggenggam sendok, menyebut warna dari tutup botol, atau sekadar menyalakan dan mematikan saklar lampu sambil menyebutkan “on” dan “off”. Kemajuan tak selalu terlihat, tapi aku percaya semua usaha meninggalkan jejak.
Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, dan membawanya saat bekerja hanya membuat semuanya kacau. Jadi aku memutuskan mengajar les di rumah. Setiap sore, dua hingga tiga anak datang bergiliran. Mereka duduk di meja kecil, membahas pecahan atau membuat kalimat dengan kata depan. Anakku bermain di sudut ruangan, mencoret-coret lantai dengan spidol kering, atau mengejar bayangan dari daun yang bergerak di jendela.
Malam hari, ketika semua sudah tidur, aku duduk di lantai dekat kasur, membereskan mainan, mencatat kembali perkembangan harian, lalu mematikan lampu perlahan. Tidak ada keluhan, tidak ada pahlawan. Hanya seorang ibu yang terus berjalan, karena cinta tak butuh tepuk tangan untuk tetap hidup.
Epilog — Surat dari Satu Ibu ke Dunia
Untukmu, yang malam ini kembali tertidur di samping anakmu setelah hari yang panjang...
Aku tahu rasanya seperti berdiri sendirian di atas kapal bocor, menahan air dengan tangan kosong. Rasanya seperti tidak ada yang benar-benar mengerti, bahkan keluarga terdekat. Tapi dengarkan aku—aku pernah berada di titik itu. Titik di mana dunia terasa terlalu berat, dan cinta yang kupunya rasanya tak cukup untuk menutupi kekurangan segalanya.
Tapi ternyata... cukup.
Bukan karena aku sempurna. Bukan karena aku tak pernah menangis, atau tak pernah ingin menyerah. Tapi karena setiap kali aku bangkit—walau dengan lutut gemetar—aku melihat matanya. Anak itu. Anak yang membuatku tetap hidup ketika yang lain pergi.
Kamu tidak sendirian.
Ada kami—para orang tua yang pernah ditinggal di tengah kehamilan, yang pernah mendengar kata-kata paling menyakitkan dari orang yang dulu kami cintai. Kami bertahan bukan karena kami kuat, tapi karena kami tahu siapa yang harus kami lindungi.
Mandiri itu bukan tentang mengurus semuanya sendiri. Tapi tentang tahu kapan harus berjalan meski tak ada yang menawarkan tangan.
Jadi, kalau malam ini kamu merasa lelah… tidur saja dulu. Besok, kita bangun lagi. Bukan demi membuktikan apa-apa, tapi karena anak kita berhak tumbuh melihat dunia dengan mata penuh harapan.
Dan kamu... kamu lebih kuat dari yang kamu kira.
— Dari satu ibu yang dulu berpikir ia takkan sanggup.