Untuk Wanita, Tentang Lelaki dan Pekerjaannya


Jika seorang lelaki tidak bekerja, marahlah!

Jika ia tidak mendapat pekerjaan, bantulah!

Jika ia tidak mau bekerja, tinggalkanlah!

 

Jika seorang lelaki memiliki pekerjaan, dukunglah!

Jika ia lelah karena pekerjaannya, manjakanlah!

Jika ia berhasil dalam pekerjaannya, nikmatilah!

 

Jika seorang lelaki sedang bekerja, percayalah!

Jika ia sedang bersusah-payah dalam pekerjaannya, doakanlah!

Jika ia gagal, semangatilah!

 

Jika seorang lelaki itu pekerja keras,

Dan ia adalah lelakimu,

Bersyukurlah!

Ketika Itu giliranku

ilustrasi orang yang berjalan dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang

 "Maaf, kami tidak punya lowongan yang cocok untuk anda." Aku merasa putus asa yang sekarang sudah mulai kukenal dengan baik. Diam-diam aku menghitung - ini adalah "tidak" keenam yang kuterima dalam minggu ini. E-mail yang singkat, padat dan jelas tentang mengapa kualifikasiku terlalu high untuk bidang yang kulamar.

Sudah empat bulan sejak kepindahanku ke kota kecil ini dan aku masih merasa seperti seekor ikan yang baru saja melompat keluar dari aquarium yang indah. yah, kira-kira begitulah orang akan memandangku ketika mereka mengetahui aku telah memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku sebelumnya. Sebenarnya aku merindukan apa yang aku kerjakan sebelumnya, aku pun rindu dengan rekan-rekan kerjaku. Bahkan aku juga rindu dengan hawa dinginnya, tempat dimana aku bekerja dan berjumpa orang-orang sederhana dan ramah.

Beberapa portal dan situs pencari kerja telah menyimpan akunku, tidak lupa aku membuat resume dengan maksimal, baik layout maupun isinya tidak luput dari perhatianku. Setiap lowongan yang kurasa keterampilanku dapat berkontribusi, segera kukirimkan e-mail menjelaskan betapa aku tertarik dan siap memberikan yang terbaik untuk itu.

Tidak ada hasil! aku ditolak karena dianggap memiliki kualifikasi yang terlalu tinggi untuk pekerjaan yang ada, namun juga tidak sedikit pekerjaan yang terpaksa aku skip karena tidak menarik bagiku. Sekarang, setelah sebulan memburu pekerjaan dengan penuh keseriusan, aku masih seorang pengangguran. Ini cukup menyedihkan untuk ukuran seseorang yang sudah terbiasa sibuk dengan target.

Kuamati kembali resume yang telah kubuat, menemukan keunggulan yang bisa kutonjolkan lebih jauh untuk menarik perhatian manajer rekruitment. Aku memiliki keterampilan dan pengalaman dalam bidang business development, pengalaman dalam bidang business planning. Segera saja aku update resumeku di portal pencari kerja dan berbagai sosial media dimana para profesional berkumpul, membangun jaringan dengan para HR dan tentu saja sibuk meningkatkan keterampilan dengan mengikuti berbagai kursus dan webinar. Segera saja panggilan interview nangkring dalam jadwal agendaku, dan diikuti dengan kalimat tidak-terima kasih, meski diucapkan dengan sesopan mungkin namun tetap saja menyakitkan.

Aku merasa frustasi dan putus asa. Apa benar tidak ada yang bisa aku lakukan? aku merasa seperti tidak berharga. Kepercayaan diriku yang dulunya kukira teguh menghadapi tantangan, terjun bebas ke dasar jurang. Dan sialnya aku harus menghadapi semua itu seorang diri.

Kemudian suatu hari seorang tetangga melihat tumpukan catatan wawancara kerjaku yang sementara kupelajari, iseng-iseng ia membacanya. Catatan ini adalah semacam resume wawancara yang telah kulakukan, aku menandai setiap bagian yang perlu mendapat perbaikan dan catatan kecil untuk perbaikan. "tulisanmu bagus," komentarnya dengan santai. "Kamu berbakat dalam mengkoreksi dan memberikan pengarahan, kenapa tidak mengajar saja?" lanjutnya masih dengan santainya menghirup kopi yang dihidangkan. Dia pulang tetapi pikiranku masih tetap tinggal ditempatnya, masih merenungkan kata-katanya tadi. Sebenarnya menyenangkan mendengar sedikit pujian tentang aku ahli dalam sesuatu hal.

Malam itu aku membuka e-mail untuk mengecek mungkin ada hal yang terlewatkan atau luput dari perhatianku. Kutemukan kembali e-mail dari seseorang yang dulu pernah menjadi dosen pembimbingku saat kuliah, tawaran untuk membagikan pengetahuan yang telah kurengkuh di program magister ke kampus lamaku. Menjadi dosen? agak jauh dari bayanganku tentang karir yang akan kujalani nantinya. Satu-satunya relasiku dengan dunia ajar-mengajar adalah di pekerjaan terakhirku namun hanya sebagai pemateri pengganti. Ini sungguh dunia yang asing bagiku, merancang dari awal tentang apa yang mau diajarkan hingga hari demi hari mengajar didalam kelas.

Bagaimanapun, aku tetap meminta janji temu dengan rektor. Aku sama sekali tidak punya rekomendasi - tidak ada latar belakang, tidak ada pengalaman, tidak ada kualifikasi. Tetapi dengan keteguhan aku singkirkan semua kecemasan itu. Aku berusaha memusatkan perhatian pada apa yang ada didepan ku sekarang, sesuatu yang nyata dan tidak ada jalan kembali untuk bersembunyi. Pengalamanku terlibat dalam business strategic, passionku terhadap business development, pengalaman dalam memimpin tim, target oriented, kurasa akan cukup membuat aku untuk dipertimbangkan.


Pagi berikutnya, berbekal sisa-sisa kepercayaan diri dan berkas lamaran, aku pergi ke kampus tempat aku pertama kali menjadi orang yang dibolehkan memilih untuk tetap belajar atau pura-pura terlihat belajar. Aku berkata kepada sang rektor tersebut bahwa aku belum pernah sebelumnya memiliki pengalaman mengajar yang formal. Tanpa kata, rektor tersebut mengajak aku ke sebuah kelas dan berkata, perkenalkan dirimu kepada mahasiswa dan berikan pengantar tentang mata kuliah yang akan saya ajarkan. Ketika selesai, aku keluar kelas sambil mempersiapkan batinku untuk kata-kata, "mungkin kamu tidak cocok mengajar."

"Cukup baik." katanya,"tetapi mungkin kamu akan kesulitan karna kamu akan memulai semua dari awal, apakah kamu tidak keberatan dengan itu?" dari awal? aku sedang ditawari pekerjaan! aku menahan diri untuk tidak berteriak gembira dan berhasil menjawab dengan tenang,"ya, tidak masalah".

Tetapi ini bukan akhir dari cerita. Setiap hari aku diserang dengan keraguan. Apakah aku terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi? apakah penjelasanku terlalu sulit dipahami? apakah aku terlalu menjaga wibawa untuk mendapatkan rasa hormat? tetapi aku belajar setiap hari. Aku belajar tentang bagaimana membangun komunikasi yang positif, mengenali setiap orang dan memperlakukan mereka sama baiknya, selalu update dengan isu terkini, rajin menonton berita, dan masih banyak lagi. Setiap hari membawa tantangannya dan tanpa sadar aku sedang jatuh cinta dengan apa yang kukerjakan sekarang. Aku melakukan semuanya dengan sepenuh hati dan aku mendapatkan feedback yang sama baiknya. Untuk pertama kalinya aku menyadari kalau cinta itu harus setara, effort kita harus sama banyaknya antara memberi dan menerima.

Ironisnya, setahun kemudian aku didekati oleh perusahaan lama tempat aku bekerja. Sepertinya situasi mereka kurang beruntung menghadapi kompetitor, dan mereka mengharapkan saya untuk kembali. Coba tebak, itu adalah giliranku untuk mengatakan,"tidak, terima kasih."


Kita Berteman Saja

Hari ini cukup berawan, matahari masih enggan bersinar sejak pagi hari. Dan aku pun masih enggan meninggalkan tempat tidurku.

“kita berteman saja ya.” Katamu lembut saat pertemuan terakhir kita.

“maksudmu?”

“yah, kalau kita bertemu, aku ingin kita bisa seperti teman biasa. Saling menyapa, ngobrol, bercanda …” kata-katamu berakhir lirih. Wajahmu menunduk.

“tentu. Kita masih akan berteman kok. Jangan kwatir. Kalau berpapasan, aku akan tersenyum menyapa dan melambaikan tangan.” Kataku dengan nada bercanda membesarkan hatimu.

Bertahun-tahun berlalu, aku tidak pernah melihatmu lagi. Aku bersyukur, karena percakapan terakhir kita mengajarkanku apa yang kamu maksud dengan mengatakan ingin tetap berteman.

Berteman dengan masa lalu tidak sesederhana yang pernah aku bayangkan!

Mungkin dengan mengajak berteman, mantan ingin kita berpura-pura tidak pernah memiliki perasaan yang lebih dalam dan harus bisa menyembunyikan rasa sakit yang kita rasakan. Tapi bagaimana caranya?

Seandainya kita mau jujur, sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menampar pipimu lalu tersedu sedan menutupi tetesan airmatanya. Sulit untuk berteman dengan seseorang yang pernah menghiasi mimpi dan khayalan indah. Sulit untuk ‘hanya berteman’ dengan seseorang yang pernah memotong ikatan hati.

Mungkin kita dapat dengan mudah menyembunyikan emosi di balik senyum yang dipaksakan. Tapi kenyataan yang sesungguhnya adalah kita tidak tau apa arti sesungguhnya berteman dengan seseorang yang pernah kita cintai.

Seseorang pernah berkata padaku,”kan tinggal berteman, apa sih susahnya?”

Susah, karena arti dan rasa dari kata ‘teman’ itu begitu cair. Coba pikirkan berbagai jenis teman yang kita miliki, seperti teman kerja, teman kuliah, teman SMA, atau teman tapi mesra ^_^

Bentuk pertemanan pun ada berbagai bentuk. Ada teman ‘transaksional’ yang kapan pun masa manfaat berakhir demikian pula hubungan pertemanan, ada pula teman ‘emosional’ yang hubungannya terjalin karena memiliki ikatan emosi atau kesenangan yang sama pada waktu tertentu.

Lalu, dimana letak pertemanan kita berada?

ilustrasi orang yang sedang bimbang dalam memutuskan sesuatu


Belum lagi keberadaan mantan dalam daftar pertemanan kita di social media. Oke mungkin kita sudah jarang bertemu secara fisik. Namun dengan alasan ‘silahturahmi’, hubungan kita masih terjaga sebagai bagian dari dunia virtual kita dengan segala pemberitahuan dan pembaharuannya. Dan apesnya adalah segala pembaharuan itu sama sekali menahan kita untuk beranjak dari masa lalu.

Tidak peduli seberapa lama kita menjalin hubungan, kebenarannya adalah semua itu sudah selesai. Ini menggarisbawahi fakta bahwa kita tidak lagi memiliki hak untuk mengatakan apa yang sedang aku atau kamu lakukan, mengomentari atau melarang.

Perpisahan itu sulit. Namun melanjutkan hidup setelah berpisah dengan orang yang kita cintai justru jauh lebih sulit lagi. Kita tidak sedang memulai dari nol, tetapi kita memulai dari sesuatu yang berantakan, tercabik, terluka, dan terpuruk. Dan ini sulit.

Seminggu Sebelumnya

“slamat pagi” seseorang baru saja memasuki ruanganku.

“slamat pagi juga. Silahkan duduk” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer.

Hari ini ada pekerjaan mendesak yang harus segera beres. Sebenarnya tinggal sedikit polesan agar rapi sebelum diserahkan, jadi saya putuskan untuk tidak teralihkan. Sayangnya suara barusan cukup familiar.

Perlahan kualihkan pandanganku ke sosok yang barusan muncul didepanku.

Ya, di depanku berdiri seseorang yang pernah dengan tangguh menantang kerasnya perguruan tinggi demi sebuah cita-cita, dan aku ada dalam cerita heroik itu.

“hai…” sapamu sambil tersenyum lebar. Kaca daun jendela serasa kehilangan kebeningannya.

“hai juga.” Jawabku singkat. Rasa terkejut belum mampu kuatasi

“bagaimana kabarmu?” kamu bertanya. Senyummu makin lebar nangkring memperlihatkan barisan putih gigi-gigimu.

“kabar baik”

Benar kata pepatah, one good things in the morning can change your whole day. Entah kenapa waktu terasa berjalan mundur, saat ini.


Cinta Tanpa Pilihan, Bakti Tanpa Akhir


Namanya tidak sempat dikenal banyak orang. Usianya masih belasan, tapi sudah menjadi tulang punggung keluarga. Sejak ayahnya pergi, dia menggantikan peran yang seharusnya tidak perlu ia pikul—bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah, sementara ibunya mencari pekerjaan seadanya agar anak-anaknya tidak kelaparan.

Ia bangun pagi-pagi, bukan untuk belajar di sekolah, tapi untuk mengejar waktu agar tidak telat ke tempat kerja. Tenaganya dibayar murah, tapi cukup untuk membeli beras dan minyak. Itu sudah cukup baginya.

Hingga satu hari, sebuah kecelakaan kerja merenggut nyawanya.

Kami datang ke rumah duka membawa santunan. Tapi yang menyambut kami bukan isak tangis karena kehilangan anak, melainkan tangisan karena kehilangan penopang keluarga. Ibu itu memeluk bungkusan santunan seperti seseorang yang baru saja kehilangan pegangan terakhir dalam hidupnya.

Di rumah itu, suasana bukan sekadar duka. Ada kekosongan. Bukan hanya anak yang pergi, tapi harapan yang ikut dibawa bersama jenazahnya.

Banyak orang bertanya, bagaimana bisa seorang anak yang masih remaja memikul tanggung jawab sebesar itu? Bukankah tugas seorang anak adalah belajar, bermain, dan bermimpi?

Jawabannya tidak sesederhana benar atau salah. Ini adalah kenyataan yang terbentuk dari banyak sisi yang saling bertabrakan.

Mungkin sang ibu tidak berniat menjadikan anaknya sebagai tulang punggung. Tapi ketika ayah pergi dan kebutuhan terus berdatangan, ia tak punya pilihan lain. Ia bekerja serabutan, kadang cukup, seringkali kurang. Dalam keadaan seperti itu, sang anak ikut turun tangan, bukan karena disuruh, tapi karena merasa harus.

Orang tua yang terhimpit kemiskinan sering kali tidak lagi memikirkan masa depan, melainkan hanya hari ini. Dalam situasi ini, anak dianggap sebagai bagian dari perjuangan, bukan prioritas perlindungan.

Tetangga melihat anak itu bekerja dan berkata, “Anak yang bertanggung jawab.” Sekolah tidak bertanya kenapa dia tak hadir. Tidak ada pihak yang menanyakan: “Apakah dia baik-baik saja?”

Di lingkungan yang terbiasa melihat anak-anak bekerja, ekspektasi menjadi bias. Anak bekerja bukan lagi sesuatu yang keliru, tapi dianggap wajar. Padahal tidak semua pekerjaan tumbuh dari kesadaran, sebagian tumbuh dari keterpaksaan.

Tidak semua keluarga punya akses ke bantuan sosial atau pendidikan tentang perencanaan hidup. Banyak yang bahkan tak tahu hak mereka. Ketika tak ada pegangan, satu-satunya harapan justru dipikul oleh yang paling muda dan paling rapuh.

Di banyak keluarga, terutama di lingkungan saya, ada narasi yang terus diulang: “Orangtua sudah berkorban membesarkanmu, sekarang giliranmu mengorbankan hidupmu untuk kami.” Kata-kata itu terdengar penuh cinta, tapi dibaliknya ada tuntutan yang kadang tak adil. Anak-anak yang baru tumbuh dewasa didorong untuk segera merantau, bekerja, dan mengirim uang pulang. Bukan karena mereka siap, tapi karena dianggap harus.

Pengorbanan orang tua yang seharusnya menjadi inspirasi berubah menjadi senjata. Anak-anak tidak lagi punya ruang untuk gagal, mencoba, atau sekadar mencari tahu siapa dirinya. Dalam sistem yang menjadikan balas budi sebagai hukum hidup, mereka kehilangan hak untuk merancang jalan sendiri terlebih dahulu.

Lebih miris lagi, ekspektasi ini tidak selalu lahir dari kemiskinan, tapi dari pola pikir. Bahwa keberhasilan anak diukur dari seberapa besar ia bisa menopang keluarganya secara finansial—bukan dari seberapa utuh ia membangun dirinya.

Pengorbanan yang semestinya tumbuh dari cinta, malah berubah menjadi kewajiban yang disetir rasa bersalah.

                “Kalau kamu tidak kirim uang, berarti kamu tidak ingat perjuangan kami.”

Tidak semua orang tua seperti ini. Tapi cukup banyak hingga lahirlah generasi yang tumbuh dengan kelelahan mental, penuh beban, dan merasa gagal hanya karena memilih membangun hidupnya sendiri terlebih dahulu.

Kisah anak itu mungkin sudah berlalu. Tapi pesan yang tertinggal masih membekas.
Ia pergi bukan sebagai korban takdir semata, tapi sebagai cermin dari kondisi yang bisa dicegah jika kita belajar dan mau berubah.

Untuk kamu yang muda dan tengah merancang hidup: Mulailah bertanya, bukan hanya soal cinta dan karier, tapi juga tentang kesiapanmu menjadi orang tua kelak.

Apakah kamu sudah memahami bahwa membesarkan anak bukan sekadar memberi makan dan pakaian, tapi membangun ruang yang aman bagi mereka untuk tumbuh?

Berumah tangga bukan hanya soal berdua, tapi tentang bagaimana generasi berikutnya akan menjalani hidup. Jika dari awal kita tidak mempersiapkan fondasi ekonomi, pendidikan, dan pola pikir yang sehat, maka besar kemungkinan anak-anak kita akan mengulang beban yang dulu pernah kita pikul—bahkan lebih berat.

Jika kamu ingin anakmu tumbuh sebagai manusia yang utuh, kamu harus menjadi orang tua yang siap memberi tempat tumbuh, bukan sekadar harapan untuk menopang.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat—bahwa cinta sejati bukan menuntut pengorbanan, tapi menciptakan ruang bagi orang yang kita cintai untuk hidup dengan utuh.

Jangan Pernah Terlambat

Hari itu ayah meninggal. Bulan Januari, udara sejuk, cuaca gelap tidak menyenangkan. Dalam kamar Rumah Sakit yang sempit, ayah sedang bersandar pada topangan tanganku, ketika tiba-tiba matanya terbeliak dengan pandangan heran yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Siluet Anak perempuan dan ayah

Aku yakin, pastilah malaikat kematian telah memasuki kamar itu. Segera setelah itu badan ayah menjadi lemas, terkulai. Kuletakkan kepalanya perlahan-lahan diatas bantal. Kututup kedua matanya. Dan aku berkata kepada ibuku yang duduk berdoa disamping tempat tidur ayah,

mama, sudah selesai. Ayah sudah meninggal.”


Kata-kata ibuku waktu itu membuat aku terkejut. Aku tak akan pernah mengerti, Mengapa kata-kata itulah yang pertama keluar dari mulut ibuku sesaat setelah ayah meninggal. Ia berkata,


oh, ia sangat bangga atas kamu. Ia begitu mencintaimu.”


Entah bagaimana, kata-kata yang beberapa patah ini menyampaikan sesuatu yang sangat penting bagi diriku. Aku tahu ini dari reaksi yang timbul dalam batinku ketika mendengarnya.


Kata-kata itu bagaikan sinar cerah yang tiba-tiba menyala, seperti suatu pikiran mengejutkan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun ada sebuah kepedihan mendalam yang menikam hatiku. Apakah aku baru saja mengenal ayahku setelah dia meninggal, dan justru bukan sewaktu ia masih hidup?


Beberapa saat kemudian dokter mengadakan pemeriksaan untuk memastikan kematian ayah. Aku bersandar pada tembok jauh di sudut kamar, menangis lirih. Seorang perawat datang menghampiriku. Ia memelukku dengan lembut untuk menghiburku. Aku tidak kuasa berbicara melalui lelehan air mataku. Aku mau mengatakan kepadanya,


aku menangis bukan karena ayahku baru saja meninggal. Aku menangis karena ayah tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa ia bangga atas diriku. Ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tentu saja, aku seharusnya tahu semua itu. Seharusnya aku tahu betapa besar perananku dalam hidupnya dan betapa aku memenuhi hatinya. Tetapi aku tak pernah tahu. Ia tidak pernah mengatakannya.”


Kamu dan Gombalanmu


Ting...

Nada khas dari ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Etmus.

“Malam cantik”

Aku mengangkat alis. Ringkas, seperti sapaan biasa. Kupikir ini hanya pesan basa-basi, dan aku sedang terlalu lelah untuk membalas dengan antusias. Maka kutulis datar:

“Malam juga”

Hari ini terlalu panjang. Ponsel bukan hiburan, hanya benda kecil yang menunda kesepian. Aku menaruhnya di atas meja lalu merebahkan diri di sofa, mencari jeda dari penat pulang kerja.

Ting...

Ponsel kembali bergetar. Aku meraihnya, setengah penasaran.

“Lagi apa ini?”

Hmm... tidak biasanya dia seaktif ini malam-malam begini.

“Lagi balas chat kamu,” balasku.

Lalu... pesan baru masuk.

“Hehehe... iya juga yah…”
“Btw mama kamu manusia kan?”

Aku mengernyit. Pertanyaan aneh.

“Iya lah, mang... kenapa?”

Dan saat balasan berikutnya muncul, aku tertawa.

“Tapi kok aneh yah... anaknya bidadari.”

Tawa kecil lolos dari bibirku. Jemariku mulai bergerak lebih lincah di layar.

“Aaaahhh bisa aja kamu…”

Percakapan mulai terasa hangat, seperti teh manis di malam yang sunyi.

“Jangan keluar malam malam yah, cantik,” tulis Etmus lagi.

Aku membalas cepat:

“Emang kenapa?”

“Gak ada pelangi yang keluar malam hari.”

Mataku membelalak sambil menahan senyum. Rasanya seperti ditimpa pelangi di dalam hati. Aku mengetik sambil cekikikan sendiri:

“Bisa gak sih kamu diam?”

“Diam gimana?” balasnya.

“Diam di hatiku… jangan ke mana-mana yah.”

Ting...

“Hahaha…”
“Ada yang aneh minggu kemarin,” tulisnya.

“Aneh apa?” balasku.

“Aku nanem sayur.”

“Terus?” kubalas penasaran.

“Yang subur malah perasaan aku ke kamu.”

Aku terdiam sebentar. Kalimat itu sederhana, tapi cara Etmus mengatakannya terasa seperti pelukan jarak jauh. Senyumku mekar lagi.

“Hidup mang pahit. Makanya Tuhan ciptakan kamu... biar ada manis-manisnya.”

Lalu ia menulis:

“Eh kamu bisa geser gak sih?”

Aku menjawab sambil menggigit bibir menahan senyum:

“Geser ke mana?”

“Ke sebelahku… soalnya aku capek ngetik. Mau bilang langsung di kuping kamu.”

Kubaca kembali pesan Etmus dari atas sambil senyum sendiri.
Benar kata orang, one small thing can change your whole day.
Bukan saja penat karena pekerjaan hari ini, kangen hari ini pun… terobati.



Lirama

 

Prolog

Aku tidak pernah tahu bahwa cinta bisa terasa indah dan sekaligus menyakitkan seperti ini.

Malam itu hujan turun perlahan, membasahi jendela kamar rumah sakit yang menghadap ke taman kecil. Tirai krem tipis menahan cahaya dari lampu taman, menciptakan bayangan lembut yang menari-nari di lantai putih. Di sudut ruangan, inkubator berdiri tenang, menghadap langsung ke tempat tidurku. Dari posisiku yang setengah rebah, aku bisa melihat wajah mungil di balik kaca—bayi kecilku yang baru lahir, matanya masih berat, napasnya pelan seperti sedang bermimpi tentang dunia yang belum sepenuhnya ramah.

Di antara inkubator dan jendela, ia berdiri. Suamiku. Punggungnya menghadap anak kami, wajahnya tertunduk, memandangi genangan hujan di balik kaca. Ia tidak mendekat. Bahkan ketika aku menoleh, berharap ia akan menatapku, menyentuh tanganku, atau sekadar berkata sesuatu yang hangat—ia tetap diam.

Gambar ibu dan anak di tepi pantai saat senja


Dokter sempat menjelaskan perlahan, seolah kata-kata adalah benda rapuh yang bisa pecah jika diucapkan terlalu keras. “Trisomi dua puluh satu,” katanya, “kondisi seumur hidup… perlu pendampingan khusus.” Aku mencatat nadanya, bukan kalimatnya. Dan aku tahu, dalam ruang yang kecil ini, hidup kami berubah selamanya.

Lalu suamiku berbicara. Tidak kepada siapa pun. Mungkin kepada bayangan dirinya sendiri.

“Kalau aku tahu ujungnya seperti ini, aku tidak akan pernah menikah… apalagi punya anak seperti dia.”

Suaranya datar. Dingin. Dan tetap menatap keluar jendela seakan jawabannya ada di balik hujan.

Aku tidak tahu yang lebih melukai—kalimatnya, atau kenyataan bahwa ia mengucapkannya di hadapan anak kami yang bahkan belum sempat memanggilnya "Ayah."

Malam itu, aku tidak menangis. Aku hanya memeluk selimut dan menatap cahaya redup dari inkubator yang tampak seperti lentera kecil di sudut malam. Dan dalam hati yang mulai retak, aku tahu… aku akan menjadi segalanya sendirian.

Ketika Cinta Saja Tidak Cukup

Awalnya, kami adalah pasangan biasa. Kami tidak punya banyak, tapi cukuplah. Ia bekerja sebagai teknisi jaringan, sering pulang malam dengan bau asap rokok yang melekat di jaketnya. Aku, seorang guru les privat, mengisi sore hari dengan suara anak-anak yang tertawa di ruang tamu kecil kami. Kami menikah tanpa pesta mewah, hanya doa, nasi kuning, dan tawa dari keluarga yang menyempil di bawah tenda sempit.

Aku mencintainya—bukan karena ia sempurna, tapi karena aku percaya kami sama-sama belajar menjadi lebih baik.

Ada sore hari di mana ia memijat kakiku sambil mencandai bentuk perutku yang mulai membuncit. “Pasti anak laki-laki,” katanya. “Kita latih dari kecil main bola.”

Saat itu aku percaya, bahwa kami akan menjadi tim: ayah, ibu, anak. Sebuah tim kecil yang cukup untuk menantang dunia.

Kami hidup di antara kabel kusut dan buku-buku pelajaran. Pekerjaan kami jauh dari kata glamor, tapi kami saling tertawa saat melihat saldo rekening tinggal sepuluh ribu. Ia sering berkata, “Yang penting bukan sisa uangnya, tapi sisa semangatnya.” Dan aku percaya itu—waktu itu.

Sabtu pagi adalah waktu terbaik kami. Ia mencuci motor sambil menyetel lagu-lagu lama dari radio butut, dan aku menyiram tanaman di pagar rumah kontrakan. Kami saling melempar senyum yang nyaris selalu berujung pada lelucon atau saling meledek.

Dalam kesederhanaan itu, kami sempat percaya bahwa cukup itu benar-benar cukup.

Saat dua garis merah muncul di test pack, aku tidak menangis, hanya tertawa kecil dan memegang perutku dengan gemetar. Ia memelukku dari belakang dan membisikkan, “Terima kasih ya… kamu luar biasa.”

Kami mulai menyiapkan kamar kecil di pojok rumah. Dindingnya dicat kuning pucat; raknya kami isi dengan baju bayi bekas dari teman kerjaku. Kami tahu hidup tidak akan mudah, tapi selama kami bersama, semuanya terasa bisa dijalani.

Tapi, bulan ketujuh membawa sesuatu yang berbeda. Dokter tidak lagi tersenyum penuh saat membaca hasil pemeriksaan. Ia bertanya apakah kami ingin melakukan screening lanjutan.

Sepulang dari rumah sakit, ia mengemudi dalam diam. Di motor, aku memeluk perutku, mencoba menerjemahkan heningnya. “Mungkin dokternya terlalu hati-hati,” kataku, dengan senyum yang lebih condong ke gugup. Ia hanya mengangguk.

Setelah hari itu, aku mulai kehilangan suara-suara kecil yang dulu membuat rumah kami hidup. Ia mulai pulang larut, sering mengaku lembur. Televisi sering menyala tanpa ada yang menonton. Bantal di sofa mulai punya bekas tidur selain milikku.

Aku menolak menganggap itu awal dari kepergian. Aku hanya berpikir, mungkin ia juga takut. Takut anak kami akan lahir berbeda. Takut kami tak akan cukup.

Tapi kini aku tahu, bukan kami yang tak cukup.

Ketika Takdir memanggilku…

Tiada yang meminta seperti ini, tapi menurutku Tuhan itu baik… merangkai ceritaku sehebat ini…

Tiga kali seminggu, kami menapaki jalan yang sama. Fisioterapi. Terapi okupasi. Kadang stimulasi wicara. Ruangannya tidak luas, hanya dilapisi busa tipis dan mainan sederhana. Aku duduk bersila di pojok tikar, mencatat setiap instruksi terapis: putaran pergelangan, latihan duduk tegak, artikulasi perlahan. Anakku kadang menangis, kadang tertawa, dan aku belajar menahan diri—tidak buru-buru memeluk, tidak segera menyelesaikan kesulitan. Terapi mengajariku bahwa kasih juga butuh jarak agar menjadi kekuatan.

Di rumah, ruang tamu kami berubah fungsi menjadi tempat belajar. Rak buku digeser ke pojok, matras dibentang, poster alfabet menempel miring di dinding. Kami menyebutnya “tempat main serius.” Di situ, aku melatih jemarinya menggenggam sendok, menyebut warna dari tutup botol, atau sekadar menyalakan dan mematikan saklar lampu sambil menyebutkan “on” dan “off”. Kemajuan tak selalu terlihat, tapi aku percaya semua usaha meninggalkan jejak.

Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, dan membawanya saat bekerja hanya membuat semuanya kacau. Jadi aku memutuskan mengajar les di rumah. Setiap sore, dua hingga tiga anak datang bergiliran. Mereka duduk di meja kecil, membahas pecahan atau membuat kalimat dengan kata depan. Anakku bermain di sudut ruangan, mencoret-coret lantai dengan spidol kering, atau mengejar bayangan dari daun yang bergerak di jendela.

Malam hari, ketika semua sudah tidur, aku duduk di lantai dekat kasur, membereskan mainan, mencatat kembali perkembangan harian, lalu mematikan lampu perlahan. Tidak ada keluhan, tidak ada pahlawan. Hanya seorang ibu yang terus berjalan, karena cinta tak butuh tepuk tangan untuk tetap hidup.

Epilog — Surat dari Satu Ibu ke Dunia

Untukmu, yang malam ini kembali tertidur di samping anakmu setelah hari yang panjang...

Aku tahu rasanya seperti berdiri sendirian di atas kapal bocor, menahan air dengan tangan kosong. Rasanya seperti tidak ada yang benar-benar mengerti, bahkan keluarga terdekat. Tapi dengarkan aku—aku pernah berada di titik itu. Titik di mana dunia terasa terlalu berat, dan cinta yang kupunya rasanya tak cukup untuk menutupi kekurangan segalanya.

Tapi ternyata... cukup.

Bukan karena aku sempurna. Bukan karena aku tak pernah menangis, atau tak pernah ingin menyerah. Tapi karena setiap kali aku bangkit—walau dengan lutut gemetar—aku melihat matanya. Anak itu. Anak yang membuatku tetap hidup ketika yang lain pergi.

Kamu tidak sendirian.

Ada kami—para orang tua yang pernah ditinggal di tengah kehamilan, yang pernah mendengar kata-kata paling menyakitkan dari orang yang dulu kami cintai. Kami bertahan bukan karena kami kuat, tapi karena kami tahu siapa yang harus kami lindungi.

Mandiri itu bukan tentang mengurus semuanya sendiri. Tapi tentang tahu kapan harus berjalan meski tak ada yang menawarkan tangan.

Jadi, kalau malam ini kamu merasa lelah… tidur saja dulu. Besok, kita bangun lagi. Bukan demi membuktikan apa-apa, tapi karena anak kita berhak tumbuh melihat dunia dengan mata penuh harapan.

Dan kamu... kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Dari satu ibu yang dulu berpikir ia takkan sanggup.